10 November 2020, 05:50 WIB

Kerusakan Hutan Datangkan Pandemi


Mediaindonesia.com | Humaniora

ANTARA/Irwansyah Putra
 ANTARA/Irwansyah Putra
.

PERISTIWA pandemi terutama disebabkan zoonosis atau penyakit pada binatang yang berkaitan erat dengan kerusakan hutan. Beberapa zoonosis yang dapat ditularkan ke manusia, seperti SARS-CoV-2 yang menyebabkan covid-19, Zika yang terjadi di Brasil, Ebola dan HIV yang merebak di Afrika, serta SARS yang merebak di Tiongkok.

Itu disampaikan Ilmuwan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Prof Jatna Supriatna dalam diskusi publik yang diadakan AIPI bersama The Conversation Indonesia, Jakarta, Senin (9/11). Ahli zoologi dan biologi konservasi Indonesia itu mengatakan deforestasi itu nyata dan tidak hanya terjadi di luar negeri, tetapi juga di Indonesia.

Contohnya, Kalimantan hanya di bagian tengah yang kondisi hutannya masih baik. Di Papua setidaknya 75% hutannya masih baik.

Jatna mengatakan kerusakan hutan dan deforestasi menyebabkan manusia dan satwa liar menjadi dekat. Saat hidup manusia hanya bergantung pada berburu dan bertani kondisi hutan masih cukup baik.

Namun ketika pertambangan, logging, deforestasi, pertambahan populasi, urbanisasi, pembangunan jalan, produksi pangan, perubahan iklim terjadi, manusia menjadi semakin berdekatan dengan satwa liar. "Manusia menjadi semakin mudah menangkap dan menjualbelikan satwa liar," kata dosen MIPA Universitas Indonesia itu.

Ada sekitar 7,5 miliar penduduk dunia yang hidup terkonsentrasi di negara-negara pemilik hutan, seperti Brasil, Indonesia, dan Tiongkok. Urbanisasi terjadi besar-besaran dan menyebabkan hutan semakin berkurang.

Itu menjadi salah satu penyebab manusia hidup semakin berdekatan dengan satwa liar. "Karnivora semakin berkurang, bahkan hilang. Satwa liar lain, seperti kelelawar, babi, tikus, dan seterusnya cepat berbiak. Itu justru yang membawa virus," kata Jatna.

Jatna menegaskan jika kondisi keanekaragaman hayati yang baik akan mengurangi risiko penyakit menular pada ekologi komunitas. Keanekaragaman hayati dapat memberikan dillution effect, menjadi penghalang transmisi penyakit dengan cara pengurangan densitas populasi dari reservoir alami untuk patogen, pengurangan densitas populasi Arthropoda sebagai vektor patogen, serta pengurangan pertemuan antara vektor dan reservoir atau di antara reservoir.

"Di Indonesia sudah warning seharusnya, karena perdagangan satwa liar belum disetop. Wet market masih ada. Itu berbahaya sekali. Di Tiongkok sudah pada ditutup," ujar dia.

Akhirnya, virus dari satwa liar yang mengalami domestikasi masuk ke manusia. "Maka Kita cukup cintai satwa liar tapi tidak usah pelihara. Karenanya sering terjadi loncatan (virus) ke manusia," kata Jatna.

Riset dilakukan di sejumlah pasar hewan seperti di Medan, Pasar Burung Pramuka di Jakarta, Pasar 45 di Manado, dan beberapa tempat lain. Rata-rata memang satwa liar dikonsumsi sendiri atau dikirim ke Tiongkok. Itu berbahaya karena bisa terjadi zoonosis. (OL-14)

BERITA TERKAIT