23 July 2020, 05:10 WIB

Wujudkan Sanitasi Inklusif


(Ata/H-2) | Humaniora

ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan
 ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan
MENCUCI PAKAIAN DI SUNGAI YANG KERUH: Warga mencuci pakaian di Sungai Muara Kumpeh yang keruh, Kumpeh Ulu, Muarojambi, Jambi, Rabu (1/7/2020

INOVASI program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat yang Berkesetaraan Gender dan Inklusi Sosial (STBM GESI) dibutuhkan dalam beradaptasi menghadapi pandemi.

Hal itu ditegaskan oleh Water Sanitation, Hygine and Early Childhood Developement Advisor Yayasan Plan International Indonesia, Silvia Devina, dalam Webinar Praktik Baik Penerapan STBM GESI yang terselenggara atas kerja sama dengan Media Indonesia, kemarin.

"Air minum dan sanitasi layak merupakan hak dasar bagi semua manusia, tidak terkecuali kelompok inklusif yang termarginalkan seperti perempuan, penyandang disabilitas, dan masyarakat miskin," katanya.

Ia menyampaikan, saat ini Plan Indonesia mengelola dua proyek yang bertujuan meningkatkan akses sanitasi dan hygiene yang berkesetaraan gender dan inklusif, yaitu WfW dan WINNER.

"Semua aktivitas STBM harus memungkinkan partisipasi aktif masyarakat, termasuk kelompok inklusif," ucapnya.

Water for Women Project (WfW) adalah proyek yang didanai Australia di Sumbawa (NTB) dan Manggarai (NTT).

Adapun Women & Disability Inclusive Nutrition Sensitive WASH Project (WINNER) didanai Belanda di Kota Mataram dan Lombok Tengah (NTB) serta Malaka dan Belu (NTT).

Kepala Desa Batu Bangka, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa, NTB, Abdul Wahab mengamini sanitasi berbasis masyarakat menjadi modal dalam membangun desa. Itu juga alasan yang membuatnya berkolaborasi dengan Plan Indonesia.

Direktur Kesehatan Lingkung an Kementerian Kesehatan Iman Agus Nurali menyadari keberhasilan pembangunan tidak hanya dilihat dari fisik, tapi juga nonfisik.

Untuk itu, ia mendukung hadirnya regulasi guna mengimplementasikan STBM GESI, khususnya di masa pandemi covid-19. (Ata/H-2)

BERITA TERKAIT