28 January 2022, 07:00 WIB

Ibnu Jamil Mengaku Kesulitan Belajar Bahasa Sunda untuk Film Nana


Basuki Eka Purnama | Hiburan

Instagram @ibnujamilo
 Instagram @ibnujamilo
Aktor Ibnu Jamil

AKTOR Ibnu Jamil mengaku merasa kesulitan sekaligus tertantang ketika belajar dan berlatih bahasa Sunda lawas untukmendalami perannya di film Before, Now & Then (Nana) garapan Kamila Andini.

"Saya orang Jakarta, Betawi asli. Disuruh (bicara) bahasa Sunda, ya, mesti PR harus ada proses di workshop-nya. Tapi itulah sebagai aktor, yang kalau kita serius dan jatuh cinta sama proyeknya, pasti totalitas menjalankannya," kata Ibnu saat dijumpai wartawan, dikutip Jumat (28/1).

Ibnu bercerita, sebelumnya, ia pernah terlibat dalam proyek film televisi (FTV) dengan dialog bahasa Sunda. Namun, perannya di film kali ini menuntut dirinya mempelajari kembali bahasa Sunda era 60-an yang memiliki perbedaan karakteristik dengan masa sekarang.

Baca juga: Tayang Perdana, Film Ben & Jody Tuai Tanggapan Positif 

"Pas tiba-tiba dapat telepon, dapat undangan casting. Tapi filmnya bahasa Sunda. Oke, nggak apa-apa dicoba. Dicoba pas casting, oh, aman. Pas workshop-nya, ribet, karena ada ahli-ahli bahasa Sunda.  'Kang Ibnu itu mah bahasa Sundanya FTV'," cerita Ibnu.

Meski merasa kesulitan, ia merasa gembira bisa terlibat dalam proyek film Nana sebab sebelumnya sudah tertarik dengan karya-karya Kamila Andini.

Terlebih, film buatan Kamila, kata Ibnu, biasanya menawarkan sesuatu yang berbeda, termasuk karakternya di film Nana, yang tidak seperti karakter mainstream yang pernah ia mainkan sebelumnya.

"Ini film pertama saya bersama dengan mbak Kamila Andini yang sebelumnya saya sudah incar lama banget karena dari awal saya nonton film keduanya Sekala Niskala, saya sudah jatuh cinta dengan karya-karyanya," akunya.

Ia juga merasa senang ketika mendapat kabar bahwa film Nana masuk ke Festival Film Berlin. 

Menurutnya, hal tersebut bisa dijadikan parameter bahwa film Indonesia dalam beberapa tahun terakhir memiliki prestasi yang mampu berbicara di festival-festival luar. Kemajuan film Indonesia dalam sisi kualitas, kata Ibnu, sudah bisa bersaing dengan film-film dari mancanegara.

"Mudah-mudahan ini adalah ekosistem yang sudah mulai tumbuh sehat dan bisa lebih maju lagi. Itu bisa berdampak tidak hanya kami sebagai filmmaker, tapi juga buat penonton Indonesia bisa punya banyak alternatif dan tontonan yang berkualitas," pungkasnya. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT