07 December 2020, 13:30 WIB

Rhoma Irama Akui Miliki Darah Agama, Seni, Politik


Fathurrozak | Hiburan

 ANTARA/Zarqoni Maksum
  ANTARA/Zarqoni Maksum
.

RHOMA Irama ialah salah satu ikon di industri musik Indonesia. Ia menjadi sosok yang merevolusi orkes melayu dan melahirkan istilah dangdut setelahnya. Banyak musik dan filmnya penuh dengan nuansa dakwah.

Selain dikenal sebagai Raja Dangdut, era 1970-1980-an Rhoma juga aktif membintangi beberapa judul film. Sebut saja Oma Irama Penasaran (1976), Gitar Tua Oma Irama (1977), Perjuangan dan Doa (1980), Satria Bergitar (1983), hingga Nada dan Dakwah (1993). Dalam karya-karyanya itu lekat dengan simbolisasi keagamaan, baik dalam bentuk tata busana hingga dialog.

Misalnya, dalam Satria Bergitar, penampilan Rhoma dengan sorban, gitar, dan kudanya dimaknai Rhoma sebagai representasi yang mewakili personalitasnya. "Di dalam darah saya, sejak kecil sudah mengalir tiga unsur. Agama, seni, dan politik. Dalam artian saya peduli dengan bangsa ini dan saya sangat ingin berkontribusi pada bangsa ini sesuai dengan yang diberikan Allah dengan bakat seni saya," kata Bang Haji dalam Bincang Madani, salah satu rangkaian program Madani Film Festival 2020, pekan lalu.

"Antara ketiga itu menjadi satu napas. Dalam Satria Bergitar, gitar sebagai simbol senjata saya. Sebagai pedang saya, yaitu musik. Sorban sebagai simbol Rhoma membawa dakwah Islam. Berkuda sebagai simbol dari perjuangan," lanjutnya.

Ia pun mengakui banyak musik ciptaannya berbicara mengenai tema ketauhidan, persatuan Islam, dan nasionalisme. Meski demikian, ia tetap berpegang seruannya itu tetaplah mengambil jalur yang bijaksana serta nasihat dan dialog yang baik.

Sebagai musikus yang besar di orkes melayu, ia juga mengenang dirinya turut merevolusi wajah genre tersebut. Pada era 1970-an, ketika musik rock menggema ke banyak negara, termasuk Indonesia, Rhoma melihat celah ada perubahan yang bisa dilakukannya dari musik yang dibawakannya itu.

Pada saat istilah orkes melayu masih lekat digunakan, dirinya juga kerap menjadi penyanyi untuk lagu-lagu pop dan ditanggap dalam acara-acara orang kaya. Pada kesempatan lain, ia mentas di panggung-panggung orkes melayu.

"Era 1970-an, band seperti Led Zeppelin dan Deep Purple yang beraliran hard rock menjadi kiblat. Terjadi demam musik rock. Dangdut, dulu namanya orkes melayu. Saat itu saya berdiri di dua kaki. Sebagai penyanyi pop iya, sebagai penyanyi orkes melayu iya. Saya melihat luar biasa ketika rock melanda. Kalau orkes melayu tidak merevolusi, akan selesai. Makanya ada gagasan merevolusi orkes melayu. Dari sisi peralatan, pemanggungan, tata cahaya, tata suara semua berubah. Sampai gaya berpenampilan juga berubah. Dari sisi aransemen, saya masukkan nuansa rock. Beat-beatnya seperti di Nafsu Serakah. Terjadilah genre baru namanya dangdut. Hasil dari revolusi yang saya lakukan dari orkes melayu."

Jalan dakwahnya dalam bermusik dan film bermula dari keresahannya. Ia menyaksikan dunia kesenian di sekitarnya kebanyakan mengabaikan kewajiban beragama.

"Saya pernah merasakan keresahan yang luar biasa dalam bermusik dan bermain film. Kenapa di seni kok umumnya tarikusshalat atau meninggalkan salat? Dulu itu kalau di area syuting film berantakan, banyak ditemukan minuman beralkohol, pergaulan bebas. Ini saya resah. Kalau lagi salat kadang ada yang nyeletuk, ‘Alah sok santri.' Akhirnya banyak dalam doa saya, 'Ya Tuhan seandainya bakat seni yang diberikan padaku hanya akan memperlebar jalanku ke neraka tolong cabut. Tapi seandainya bakat seni ini mendorong ke keridaan-Mu, bimbing saya.' Lau pada 13 Oktober 1973 saya mendeklarasikan Soneta sebagai the sounds of muslim." (OL-14)

BERITA TERKAIT