07 August 2023, 19:11 WIB

Gerakan Nasional Penanganan Dampak El Nino Dimulai di Sumatera Selatan


Media Indonesia | Ekonomi

Ist/Kementan
 Ist/Kementan
Mentan Syahrul Yasin Limpo meninjau tanam padi perdana dalam Gernas Penanganan Dampak El Nino di Ogan Ilir, Sumsel, Senin (7/8).

MENTERI Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) meninjau tanam padi perdana dalam Gerakan Nasional (Gernas) Penanganan Dampak El Nino di Desa Pelabuhan Dalam, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel), Senin (7/8).

Usai menerima laporan langsung terkait kesanggupan Pemprov Sumsel dalam memenuhi cadangan beras nasional sebanyak 200 ribu ton, Mentan SYL memastikan bahwa kebutuhan beras dalam menghadapi cuaca buruk El Nino dalam kondisi aman. 

“Selain beras, daerah Sumsel juga akan mempersiapkan lahan tetap atau lahan eksisting yang masih memiliki air kurang lebih sekitar 150 ribu hektare. Selanjutnya, lahan tersebut diproyeksikan menjadi lumbung pangan bagi Provinsi Sumatera Selatan, ujar Mentan SYL.

Baca juga: Saat Kunjungan ke Sumsel, Mentan SYL Pastikan Kondisi Beras Nasional Aman

Sementara itu, Gubernur Sumsel, Herman Deru menyampaikan terima kasih atas perhatian jajaran Kementan terhadap gerakan nasional tanam padi el nino. Terlebih, Sumsel diberi bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk menambah perluasan tanam dan lahan.

Tak hanya Sumsel, Gernas Penanganan Dampak El Nino juga digelar di sejumlah provinsi lainnya selama periode Agustus-Oktober 2023.

Gernas Rl Nino Targetkan 500 Ribu Hektere

Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan lokasi Gernas El Nino dilaksanakan di lahan seluas 500 ribu hektare (ha) di 10 provinsi yang terdiri dari 6 provinsi utama dan 4 provinsi pendukung.

Baca juga: Dampak El Nino terhadap Kesehatan Masyarakat Harus Diantisipasi

Provinsi utama di Sumatera Utara dengan luas tambahan tanam Gernas periode Agustus-Oktober 2023 adalah 45.000 ha di 13 Kabupaten, Sumatera Selatan 74.500 ha di 10 Kabupaten, Jawa Barat di Kabupaten, Jawa Timur di 14 Kabupaten, Jawa Tengah di 22 Kabupaten, serta Sulawesi Selatan di 11 Kabupaten, provinsi pendukung meliputi, Lampung di 6 Kabupaten, Banten di Kabupaten, Kalimantan Selatan du 9

Mentan Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, dalam mengantisipasi pengaruh fenomena El Nino, Kementan menyiapkan berbagai langkah antisipasi dini, memitigasi risiko maupun adaptasi kegiatan budi daya terhadap fenomena El Nino serta kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Prediksi BMKG, tahun ini El Nino akan lebih berdampak pada wilayah Pulau Jawa, NTB, Bali, atau Sumatera Selatan. Sedangkan wilayah-wilayah tersebut merupakan sentra produksi pertanian terbesar di Indonesia. Semoga Gernas El Nino ini berjalan optimal,” tutur Mentan SYL.

Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah di Indonesia telah memasuki musim kemarau dan puncaknya diprakirakan terjadi pada bulan Agustus, dan September 2023.

Baca juga: Kekeringan di Jawa Tengah Meningkat Terjadi di 21 Daerah

Kondisi juga diperparah dengan terjadinya El-Nino Lemah Moderat pada Juni-Juli lalu, sehingga sebagian besar wilayah mengalami kondisi curah hujan yang sangat rendah.

Menurut Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Suwandi menyampaikan El Nino menyebabkan dampak langsung terhadap sektor pertanian, di antaranya kekeringan, perubahan musim tanam, serangan OPT, resiko produksi produktivitas, dan lainnya.

Karenanya, ungkap Suwandi, pihaknya telah menyiapkan sejumlah strategi. Mulai dari gerakan percepatan tanam, gerakan pengendalian Organisne Pengganggu Tumbuhan (OPT) sebagai upaya pengendalian hama dan penyakit tanaman, hingga gerakan penanganan dampak perubahan iklim (DPI).

Adapun aksi nyata yang dilakukan adalah dengan kordinasi, pendataan atau pemetaan wilayah, penyediaan sumber pengairan, distribusi benih, distribusi pupuk, gerakan percepatan tanam, gerakan penanganan kekeringan dan gerakan pengendalian OPT, pengawalan asuransi dan pembiayaan KUR petani, panen dan pascapanen serta offtaker-nya. (RO/S-4)

BERITA TERKAIT