12 May 2023, 17:45 WIB

Nilai Tukar Rupiah Sore Ini Melemah


Zubaedah Hanum | Ekonomi

MI/Moh Irfan
 MI/Moh Irfan
Ilustrasi

NILAI tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada akhir perdagangan Jumat (12/5), merosot di tengah penguatan indeks dolar AS karena kekhawatiran plafon utang Amerika Serikat (AS).

Rupiah pada Jumat sore ditutup melemah 29 poin atau 0,20% ke posisi Rp14.751 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.722 per dolar AS.

"Rupiah berbalik melemah hari ini terhadap dolar AS. Pergerakan indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, terlihat menguat ke level 102 sejak semalam," kata pengamat pasar uang Ariston Tjendra di Jakarta, Jumat (12/5).

Baca juga : Waduh, Kenaikan Utang bukan Cuma di Amerika Tapi juga Tiongkok!

Ariston mengatakan penguatan dolar AS tersebut dipengaruhi oleh posisi dolar sebagai aset safe haven yang mana pasar mengkhawatirkan masalah plafon utang (debt ceiling) AS dan kondisi perbankan AS serta pelambatan ekonomi Tiongkok.

Penguatan dolar AS juga bisa dikarenakan indikasi bahwa bank sentral AS atau The Fed belum memikirkan opsi pemangkasan suku bunga acuannya.

Baca juga : IMF: Ekonomi Dunia Terdampak jika AS Alami Gagal Bayar

Rupiah pada pagi hari dibuka menurun ke posisi Rp14.762 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.736 per dolar AS hingga Rp14.770 per dolar AS.

Sementara kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat melemah ke posisi Rp14.752 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.722 per dolar AS.

Plafon utang AS

Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Janet Yellen pada Kamis (11/5) telah meminta Kongres untuk menaikkan batas utang federal sebesar US$31,4 triliun dan mencegah gagal bayar yang belum pernah terjadi sebelumnya yang akan memicu penurunan ekonomi global.

Kekhawatiran tentang krisis perbankan regional AS meningkat setelah saham PacWest Bancorp anjlok 23% pada Kamis (11/5). Pemberi pinjaman yang berbasis di Los Angeles itu mengatakan simpanannya menurun dan telah membukukan lebih banyak jaminan ke Federal Reserve AS untuk meningkatkan likuiditasnya.

Pemerintah federal AS dapat kehabisan uang untuk membayar tagihannya paling cepat 1 Juni, kata Departemen Keuangan, kecuali plafon utang dinaikkan.

Pembicaraan mendetail tentang peningkatan plafon utang pemerintah AS sebesar US$31,4 triliun dimulai pada Rabu (10/5) dengan Partai Republik terus bersikeras pada pemotongan pengeluaran, sehari setelah Presiden Demokrat Joe Biden dan Kevin dari Partai Republik bertemu mengenai masalah tersebut untuk pertama kalinya dalam tiga bulan.

Dampak Serius

Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan bahwa gagal bayar utang AS yang dipicu oleh kegagalan untuk menaikkan plafon utang negara itu akan memiliki "dampak yang sangat serius" bagi ekonomi AS serta ekonomi global, termasuk kemungkinan biaya pinjaman yang lebih tinggi.

Sementara itu, kekhawatiran tentang lemahnya permintaan di Tiongkok juga membuat investor berhati-hati. Diketahui, data harga konsumen Tiongkok pada April naik pada kecepatan yang lebih lambat dan meleset dari ekspektasi. Sementara deflasi gerbang pabrik semakin dalam, menunjukkan lebih banyak stimulus mungkin diperlukan untuk mendorong pemulihan ekonomi pasca-COVID-19 yang tidak merata. (Ant/Z-4)

BERITA TERKAIT