11 May 2023, 10:28 WIB

Legislator Desak Realisasi Tenaga Kesehatan Honorer Jadi ASN


Media Indonesia | Ekonomi

Ist
 Ist
Anggota Komisi IX DPR RI Itet Tridjajati Sumarijanto.

ADANYA desakan dari para tenaga kesehatan untuk dapat diangkat menjadi tenaga kesehatan (nakes) honorer menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui jalur Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, kembali mengemuka.

Menurut legislator PDI Perjuangan, Itet Tridjajati Sumaridjanto, keinginan nakes honorer untuk menjadi ASN dapat diwujudkan, apabila mengacu kepada beberapa hal.

Acuannya di antaranya masalah kuota atau jatah penerimaan pegawai honorer di lingkungan tenaga kesehatan.

Baca juga: Kunjungi Puskesmas Sota, Komisi IX DPR Akan Perjuangkan Nakes Daerah Perbatasan

Selain itu, para calon tenaga kerja kesehatan tersebut juga belum mendapatkan pemahaman terkait jenjang pekerjaan yang seharusnya di sosialisasikan terlebih dahulu.

Perlu Pemerataan SDM Tenaga Kesehatan

Itet mengakui salah satu permasalahan transformasi kesehatan saat ini adalah pemerataan sumber daya manusia (SDM) tenaga kesehatan.

"Sebenarnya masalah peluang tenaga kesehatan honorer untuk menjadi tenaga ASN cukup terbuka, asalkan ada kuota atau tidak?  Namun, yang lebih penting dari itu semua adalah, sosialisasi di awal, ketika para tenaga kerja kesehatan honorer itu ingin memulai pekerjaannya", tegas legislator asal Lampung itu.

Baca juga: Ribuan Honorer Nakes Di OKI Ikuti Seleksi PPPK

Lebih lanjut Itet memaparkan, di beberapa negara maju seperti Australia, tenaga kesehatan honorer senior lebih di prioritaskan. Mengingat pengalaman yang di miliki dan 'jam terbang' yang cukup tinggi.

Menurut anggota Komisi IX DPR RI, sebaiknya perusahaan dalam hal ini pihak rumah sakit dalam menetapkan tenaga honorer menjadi ASN tidak memilih tenaga kerja junior hanya dengan alasan mereka lebih menguasai teknologi dibandingkan dengan mereka yang senior. 

Karena pada prakteknya walaupun pegawai junior major menguasai teknologi, mereka juga harus belajar dari para seniornya yang sudah memiliki pengalaman panjang.

Rumah Sakit Beri Kursus Tenaga Digital untuk Nakes Muda

Selain itu, pihak rumah sakit harus menghargai para nakes senior dengan memberikan kursus tambahan tentang teknologi digital. Dengan demikian tidak terjadi kecemburuan dari para nakes senior yang melihat juniornya mendapatkan insentif yang lebih besar.

Baca juga: Nakes RSUD Flotim Geruduk Kantor DPRD Tuntut Kejelasan Insentif Covid-19

"Ada baiknya perusahaan dalam hal ini pihak rumah sakit untuk memilih para tenaga kesehatan yang senior daripada tenaga kerja baru yang minim pengalaman. Kecendrungan di negara kita, mereka lebih memilih tenaga kerja baru yang minim pengalaman", tambah Itet.

Baca juga: Anggota DPR Ungkap Keluhan Nakes Honorer Terkait Pengangkatan PPPK

Untuk itu Itet berharap, pemerintah sungguh-sungguh memperjuangkan nasib para tenaga kesehatan honorer selain itu, pemerintah juga memiliki pekerjaan rumah yang tidak mudah, mengingat para pekerja honorer ini juga harus memiliki bekal pendidikan dan pengalaman yang cukup, sebelum akhirnya di terima sebagai pekerja aparatur sipil negara atau ASN.

Sementara itu, menyikapi unjuk rasa pekerja tenaga honorer kesehatan yang menolak RUU Kesehatan, Itet berharap untuk bersabar, mengingat masalah tersebut masih dalam Daftar Inventaris Masalah atau DIM, yang akan di bahas pada masa persidangan berikutnya, mengingat saat ini anggota DPR RI sedang memasuki masa reses. (RO/S-4)

BERITA TERKAIT