04 March 2023, 23:16 WIB

Cegah PHK Perlu Dialog Bipatrit Lebih Intens antara Pengusaha dan Pekerja


Apul Iskandar | Ekonomi

Ant/Indrianto Eko Suwarso
 Ant/Indrianto Eko Suwarso
 Pekerja berjalan di trotoar Jalan Jenderal Sudirman saat jam pulang kerja di Jakarta, akhir pekan lalu.

LABOR Institute Indonesia menilai pertumbuhan ekonomi dalam kuartal pertama yg berkisar  4.8% hingga 5.0%, belum dapat mendorong penciptaan lapangan kerja secara massive dan berjalan tidak seimbang dengan pergerakan pemutusan hubungan kerja yang perlahan bergerak secara massive khususnya di industri startup dan turunannya.

Sekretaris Eksekutif Labor Institute Indonesia Andy William Sinaga mengatakan, PHK mulai menyasar industri manufaktur khususnya industri alas kaki, garmen dan tekstil. Hal ini akibat penurunan permintaan sehingga berdampak pada pengurangan produksi. Akibat dari situasi dan kondisi ekonomi nasional dan global.

"Berdasarkan data yang dihimpun Labor Institute dari pencairan Jaminan Hari Tua (JHT) akibat PHK akhir tahun yang lalu menyentuh hampir 1 juta peserta yang mencairkan dana JHT nya di BPJS Ketenagakerjaan. Angka tersebut cenderung akan bergerak naik apabila antisapasi PHK tidak dilakukan secara komprehensif," kata Andy, Sabtu (4/3).

Peran dialog secara bipartit antara pekerja dan pengusaha kata dia perlu lebih intens dilakukan untuk mencegah PHK.

"Untuk itu Labor Institute Indonesia mendorong pemerintah agar melakukan akselerasi program penciptaan lapangan kerja mandiri dalam bentuk program bantuan cash dalam bentuk hibah  untuk para pelaku industri kecil atau Usaha kecil menengah dan mendorong pelatihan 2 peningkatan skill dan kompetensi dalam berwirausaha," tandasnya.

Pihaknya, lanjut Andy, melihat peluang pasar untuk bekerja diluar negeri dapat dijadikan alternatif untuk para pengangguran tersebut. Contohnya beberapa negara Eropah seperti Belanda, Jerman, Inggris  sangat membuka peluang kerja di sektor Industri  manufaktur  dan sektor kesehatan seperti perawat kesehatan, perawat jompo dan dokter dan pertanian perkebunan.

Demikian juga halnya dengan negara Korea dan Jepang banyak membutuhkan tenaga kerja pengasuh rumah tangga dan industri manufaktur. Belum lagi kebutuhan tenaga kerja asisten rumah tangga di negara Timur Tengah, Hongkong, Taiwan, Singapura dan Malaysia.

Peluang kerja di luar negeri bagi Pekerja yang terkena PHK dan pencari kerja ungkap Andy perlu dimanage secara profesional dan dilakukan pengawasan secara melekat agar para calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) tersebut bisa terhindar dari Human Trafacking atau perdagangan manusia.

Selain itu strategi tax holiday atau keringanan pajak bagi para pengusaha perlu dimassivekan lagi khususnya bagi perusahaan yang kondisi keuangannya dalam kondisi tidak baik karena situasi ekonomi global yang lagi lesu.

"Koordinasi yang terintegrasi perlu segara dilakukan untuk mendialogkan dan mencari jalan keluar atas situasi ekonomi yang berdampak pada massivenya PHK yang secara otomatis mendorong tingkat pengangguran," ujar Andy. (OL-13)

Baca Juga: Kemenkeu Dipuji Cekatan dalam Mengelola Krisis

BERITA TERKAIT