30 November 2022, 20:31 WIB

Hadapi Ancaman Resesi Global, Ekonom: Fundamental Indonesia Harus Kuat


Mediaindonesia.com | Ekonomi

Dok. Bahana TCW
 Dok. Bahana TCW
Kepala Ekonom PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat

TAHUN 2023 diramalkan banyak pihak akan menjadi tahun dengan kondisi ekonomi global yang semakin bergejolak. Selain ancaman resesi, tingginya inflasi, hingga pengetatan likuiditas semakin memojokkan ekonomi banyak negara menuju pelemahan. 

Dibanding dengan krisis-krisis ekonomi sebelumnya, seperti yang terjadi pada 1998 dan 2008, durasi, sebaran dan keparahan krisis ekonomi 2023 berisiko lebih lama dan akut. Hal ini didorong oleh konflik geo-politik multi polar dan polemik kebijakan moneter paska pandemi yang lebih membutuhkan kerjasama internasional terutama antar negara yang berseteru.

"Kami mengkhawatirkan saat ini sebetulnya, dunia mengarah pada suatu krisis baru. Krisisnya nanti apakah sebaran, kemudian kedalaman atau keparahan, dan durasi, kemungkinan besar ini lebih luas, lebih dalam dan lebih lama," kata Kepala Ekonom PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat, di Jakarta, Rabu (30/11/2022). 

Menurut Budi, pertumbuhan ekonomi telah kehilangan momentum akibat covid yang kemudian diperparah kondisi geopolitik yang meningkatkan risiko utang negara miskin dan potensi krisis pangan di sejumlah kawasan. 

"Capital market sudah mengantisipasi ya. Jadi seperti bursa di Amerika itu sempat anjlok 20 persen lebih. Demikian juga di pasar obligasi sudah naik bahkan melewati inflasi, namun imbal hasil jangka panjang tidak sepesat yang jangka pendek," kata dia. 

Budi menlanjutkan, perekonomian Indonesia diharapkan dapat bertahan di tengah terpaan badai resesi global dengan ditunjang fundamental kuat. Perekonomian domestik secara umum masih menunjukkan ketahanan dengan ditopang peningkatan permintaan domestik, investasi yang terjaga, dan berlanjutnya kinerja positif ekspor meskipun mulai menunjukkan indikasi pelemahan temporer di September 2022. 

"Ini harus dijawab, benarkah fundamental Indonesia kuat?" kata dia. 

Dia menambahkan, untuk Purchasing Manufactur Index (PMI) Indonesia meneruskan akselerasi di tengah kontraksi dan pelemahan manufaktur di negara-negara besar, seperti Eropa, Tiongkok, dan Korea Selatan. Selain memanfaatkan kenaikan berbagai income commodity (seperti batu bara, nickel, CPO dan karet) yang lebih gegas ketimbang cost commodity (khususnya minyak mentah), program hilirasi sektor minerba memperkuat fundamental perekonomian. 

Menurut Budi, tidak hanya surplus neraca berjalan, tetapi juga peningkatan penerimaan pajak yang penting untuk meredam dampak kenaikan harga bahan bakar untuk tidak langsung ditanggung oleh masyarakat yang belum lama menghadapi pandemi. Program re-industrialisasi juga lebih menjanjikan dalam penciptaan kesempatan kerja terampil untuk menaikan pendapatan dan kesejateraan.

"Apa yang terjadi di Inggris itu bisa dijadikan acuan. Bahwa yang krisis berat itu apabila growing old before growing rich 2030," kata dia. 

Sementara itu, Direktur PT Bahana TCW Investment Management Danica Adhitama mengatakan, PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) sebagai perusahaan manajemen investasi dan anak usaha dari Holding BUMN Asuransi dan Penjaminan (Indonesia Financial Group-IFG) berkomitmen untuk terus menghadirkan produk investasi yang dapat menjawab tantangan ekonomi 2023. 

Berbekal pengalaman profesional puluhan tahun dan komitmen kuat untuk mengutamakan tata kelola (good governance) yang telah diapresiasi banyak pihak di dalam dan di luar negeri serta ditopang oleh talenta sumber daya manusia, Bahana TCW siap membantu masyarakat berinvestasi melalui berbagai asset class dan instrument.

Dengan melibatkan comprehensive assessment atas sebuah emiten yang akan menjadi underlying sebuah produk investasi serta dengan melibatkan penggunaan teknologi informasi untuk memastikan emiten yang bersangkutan memiliki going concern dan fundamental yang kuat sehingga dapat menodorong produk Reksa Dana dapat memberikan tingkat pengembalian investasi yang optimal.

"Memang banyak sekali kebijakan baru yang dikeluarkan oleh regulator pasar modal khususnya, yang justru semakin memperketat gerakan perilaku pasar industri," kata Danica. 

Baca juga : Harga Telur Ayam Naik, Peternak: Permintaan Jelang Nataru Tinggi

Selain itu, menurut Danica, kondisi pasar global juga turut mempengaruhi sikap dan perilaku investor. Hal itu bisa dilihat dampaknya dari tren aset industri reksadana pada 2022 mengalami penurunan secara agregat. 

"Tapi sebelumnya kalau kita lihat ke depannya itu ada potensi investasi yang cukup besar," kata dia. 

Untuk menghadapi 2023, strategi Bahana TCW agar produk-produk investasi tetap dapat memberikan imbal hasil yang optimal adalah dengan memperkuat penerapan manajemen risiko.

Bahana TCW, lanjut Danica, memiliki line up produk yang dapat menjawab tantangan ketidakpastian ekonomi di 2023. Selain itu, Bahana TCW melihat kelas asset obligasi dapat memberikan imbal hasil yang menarik pada 2023. Sejalan dengan itu, produk existing Bahana TCW yang juga menjadi flagship fund adalah Asian Bond Fund yang merupakan reksadana index yang mengacu pada “IBOXX ABF Indonesia Index”, dimana hal tersebut memungkinkan investor untuk dapat membeli seri flagship obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia.

Namun, perlunya diversifikasi investasi menghadapi ketidakpastian ekonomi mutlak diperlukan untuk menjaga imbal hasil investasi tetap optimal. Apalagi, di tengah gejolak ekonomi yang semakin penuh ketidakpastian, terutama terkait nilai tukar Rupiah yang sejak awal tahun (year to date/ytd) hingga awal November 2022 telah melemah sebesar 9,65 persen terhadap Dollar AS, Reksa Dana Pasar Uang dapat menjadi alternatif investasi.

Salah satu produk Reksa Dana Pasar Uang besutan Bahana TCW yang tetap mencatatkan kinerja optimal adalah Reksadana Bahana Liquid USD. Selama 1 tahun terakhir produk ini berhasil mencetak tingkat return sebesar 0,34 persen. Dengan tren suku buna deposito perbankan yang menunjukkan kenaikan, maka dalam satu tahun ke depan, BLU berpotensi untuk dapat mencetak tingkat return sebesar 1 – 1,30 persen per annum (p.a).

Sementara itu, Presiden Direktur PT Bahana TCW Investment Management Rukmi Proborini mengatakan, Bahana TCW berkomitmen untuk dapat memberikan yang terbaik termasuk dalam upaya untuk terus menghadirkan produk investasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dapat menjawab segala tantangan yang ada. 

Selama 2022, Bahana TCW telah meluncurkan enam produk investasi dengan menggandeng sejumlah mitra, diantaranya Reksa Dana Bahana Gebyar Dana Likuid (BGDL) dengan menggandeng Bank BCA, Bahana Himaya Likuid Syariah dengan Bank BSI, serta Bahana Global Healthcare Sharia Equity USD Fund dengan Bank DBS Indonesia dan Bank Standard Chartered Indonesia. 

S"Dalam pengembangannya dan pengelolaan produk investasi, kami selalu menitikberatkan pada risk culture yang ketat dan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG)," kata Rukmi. 

Menurut Rukmi, pengembangan produk investasi secara prudent dengan didukung jaringan distribusi yang luas meningkatkan kepercayaan investor untuk menempatkan investasinya pada produk investasi Bahana TCW. Terbukti, hingga Oktober 2022, Bahana TCW membukukan AUM lebih dari Rp48 triliun. Besarnya AUM ini menempatkan Bahana TCW pada posisi kedua dalam jajaran manajer investasi dengan dana kelolaan reksadana terbesar (asset under management/AUM) di Indonesia.

"Ke depan Bahana TCW merespons hal-hal tersebut di atas dengan berpanduan pada BTIM Survival kits sebagai bentuk kesiapan dan sikap agility terhadap perubahan yang akan datang," kata dia. 

Dia juga menyampaikan 4 pilar utama dalam BTIM Survival Kits. Keempat pilar tersebut di antaranya, pertama Crisis Management, yaitu dengan menyiapkan integrated solution pada semua tatanan dalam organisasi yang meliputi investment capabilities, client maintenance, operation dan risk management. 

Kedua, Product Innovation dan product placement sebagai bentuk adaptabilitas perusahaan dalam menghadapi perubahan. Ketiga, AUM extention strategy yang berfokus tidak hanya pada channel distribusi tetapi juga road map yang jelas atas kebutuhan investor. 

"Terakhir Digital segment yang tidak hanya mementingkan volume penjualan namun juga internal proses yang pruden," kata dia. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT