24 September 2022, 08:50 WIB

Perkuat Kerja Sama Sektor Industri, Perdagangan, dan Investasi Negara G20


mediaindonesia.com | Ekonomi

ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/rwa.
 ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/rwa.
   

INDONESIA mengadakan Pertemuan Tingkat Menteri G20 bidang Perdagangan, Investasi, dan Industri atau G20 Trade, Investment and Industry Ministerial Meeting (TIIMM) di Nusa Dua, Bali, 21-23 September 2022.

Pada ajang itu terungkap sektor perdagangan, investasi, dan industri dinilai sebagai motor penggerak perekonomian nasional suatu negara, termasuk dalam masa menghadapi kondisi pandemi covid-19.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan kemampuan industri menjadi unsur utama bagi ketahanan ekonomi sebuah negara di masa pandemi. Jika negara memiliki indeks kinerja industri sangat kompetitif, negara itu akan lebih tangguh dalam menghadapi tantangan-tantangan di masa pandemi.

Selanjutnya, Menko Airlangga menyebut pandemi covid-19 pun mempercepat transformasi digital, termasuk perdagangan digital. Penjualan e-commerce ritel global pada 2020 meningkat hampir 30% dari 2019.

“Pada 2020, sekitar 24% perusahaan menerima pesanan secara online dan lebih dari 40% perusahaan memesan secara online,” ujarnya dalam acara TIIMM di Nusa Dua Bali, Kamis (22/9).

Pada sektor investasi, Menko Airlangga menekankan, dalam Presidensi G20 tahun ini, Indonesia mendorong penguatan kerja sama antar negara-negara G20 dalam menetapkan arah strategis untuk memulihkan kepercayaan terhadap institusi global. “Platform multilateral menjadi penting sehingga pertemuan-pertemuan G20 didorong dapat memberikan banyak pengayaan bagi anggota G20,” jelasnya.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebutkan G20 tahun ini jadi momen bersejarah bagi Indonesia karena untuk pertama kalinya dalam sejarah G20, isu industri dibahas lebih komprehensif dalam satu kesatuan pada Trade, Investment, and Industry Working Group di bawah Presidensi G20 Indonesia.

“Jadi, semua berkesempatan berkumpul dan berbagi pandangan. Tidak hanya membahas isu-isu terkait perdagangan dan investasi, tetapi juga bersama-sama membahas isu industri,” tuturnya.

Dalam pertemuan bila­teral dengan Executive Vice President (EVP) of European Commisioner for Trade Valdis Dombrovskis, Indonesia berkomitmen mempromosikan pengembangan industri hijau dan memprioritaskan efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya berkelanjutan.

“Kami menyambut baik proposal kebijakan Uni Eropa yang diterapkan melalui Green Deal Strategy, dengan tujuan mempromosikan pembangunan berkelanjutan,” kata Menperin di Bali, Kamis (22/9).

Menperin menegaskan pihaknya tengah mengaksele­rasi ekonomi berbasis industri hijau melalui efisiensi sumber daya alam dan penerapan ekonomi sirkular, penggunaan energi baru dan terbarukan seperti biofuel, biomassa, dan Refuse Derived Fuel (RDF). “Untuk mencapai pembangunan berkelanjutan ini tidak bisa dilakukan sendiri, tapi harus bersama-sama dan kita semua bisa jadi bagian transformasi itu,” katanya.

Produk inovatif anak bangsa

Sementara itu, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menegaskan TIIMM  G20 menjadi momentum tepat dalam meningkatkan kesejahteraan secara  merata, bagi masyarakat dunia. Khususnya, dalam menghadapi ancaman  krisis pangan dan krisis energi yang bisa berimbas pada krisis keuangan.

“Perdagangan, investasi, dan industri harus jadi bagian solusi global. Bersama kita akan membangun kembali kepercayaan di antara negara G20 dalam menghadapi tantangan ekonomi global terkini,” kata Mendag.

Dalam agenda ini, Zulkifli mengajak menteri-menteri perdagangan negara anggota G20 meninjau produk-produk inovatif karya anak bangsa. Produk-produk berbasis teknologi berkelanjutan dan peduli lingkungan itu dipamerkan dalam Trade Investment and Industry G20 Exposition (TII G20 Exposition) di Pre-Function Terrace, Hotel Sofitel, Nusa Dua, Bali.

“TII G20 Exposition terkait keberlanjutan. Pameran ini berisi produk unggulan Indonesia yang fokus pada peningkatan kepedulian teknologi berkelanjutan serta kepedulian pada lingkungan. Indonesia ingin menunjukkan kepada Menteri Negara Anggota G20 yang hadir bahwa kita memiliki teknologi-teknologi inovatif berkelanjutan,” kata Mendag.

Di sisi lain, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyampaikan empat tantangan investasi berkelanjutan pada pembukan TIIMM G20. Pertama, investasi harus berkontribusi terhadap hilirisasi yang berperan penting untuk meng­akhiri siklus ketergantungan negara-negara berkembang terhadap komoditas mentah, sembari mengurangi dampak perubahan iklim.

Kedua, investasi berkelanjutan juga perlu ramah terhadap kepentingan masyarakat setempat. Ketiga, investasi membutuhkan keadilan, yakni saat ini tren investasi di bidang energi hijau masih sangat timpang.

Tantangan terakhir yakni perlunya dukungan negara-negara untuk mengadopsi kompendium sebagai referensi kebijakan bagi penyusunan dan implementasi strategi dan program untuk menarik investasi berkelanjutan.

“Pertemuan kali ini kami harapkan dapat menghasilkan manfaat bagi pemulihan ekonomi dunia serta merumuskan agenda dan kebijakan tata kelola pembangunan internasional yang lebih kokoh,” kata Bahlil. (Ifa/Ant/S3-25)

BERITA TERKAIT