22 September 2022, 21:22 WIB

Kenaikan BI Rate Tidak akan Diikuti Suku Bunga Perbankan


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

ANTARA FOTO/Reno Esnir
 ANTARA FOTO/Reno Esnir
Warga bertansaksi melalui mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di Galeri ATM Stasiun KA Juanda, Jakarta.

GUBERNUR Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan, penaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 4,25% tidak akan serta merta diikuti oleh kenaikan suku bunga perbankan. Hal itu disebabkan oleh kondisi likuiditas yang masih cukup baik dan memadai di pasar.

"Kenaikan BI rate tentu saja pengaruhnya terhadap kenaikan suku bunga perbankan, tapi akan lebih lambat dari sebelum pandemi karena likuiditas saat ini sangat tinggi. Kami tenggarai elastisitasnya akan lebih rendah dibandingkan kondisi sebelum covid karena likuiditas yang longgar," jelasnya dalam konferensi pers, Kamis (22/9).

Dari data BI, pada Agustus 2022, rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masih tinggi mencapai 26,52%. Sedangkan pertumbuhan kredit pada Agustus 2022 tercatat sebesar 10,62% (yoy), ditopang oleh peningkatan di seluruh jenis kredit dan pada mayoritas sektor ekonomi.

Selain itu, pemulihan intermediasi juga terjadi pada perbankan syariah, dengan pertumbuhan pembiayaan sebesar 18,7% (yoy) pada Agustus 2022.

Adapun suku bunga perbankan masih dalam tren menurun. Di pasar dana, suku bunga deposito 1 bulan perbankan turun sebesar 44 bps menjadi 2,90% pada Agustus 2022 dari Agustus 2021. Di pasar kredit, suku bunga kredit menunjukkan penurunan 48 bps pada periode yang sama menjadi 8,94%.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti juga memastikan kondisi likuiditas pasar masih cukup. Penaikan suku bunga acuan oleh BI tak akan langsung diikuti oleh suku bunga perbankan.

"Dari pantauan kami memang kondisi saat ini belum normal, likudiitas di market masih cukup ample. Pada Agustus lalu kita naikan BI rate 25 bps, tapi bunga di pasar masih menunjukkan tren penurunan, dana turun 44 bps menjadi 2,9% kredit turun 48 bps menjadi 8,94%," tuturnya.

Baca juga: Tiga Calon Ketua Umum HIPMI Temui Presiden Joko Widodo

"Kita butuh waktu untuk melihat, dalam waktu normal, transmisi itu 1-2 triwulan. Tentunya dengan kondisi likuiditas yang banyak, kami perkirakan pengaruh ke perbankan tidak signifikan. Secasra industri kita lihat likuiditas ample, tapi kita perlu juga melihat secara tirangular," lanjut Destry.

Sementara itu, Corporate Secretary Bank Mandiri Rudi As Aturridha mengatakan, secara umum perbankan membutuhkan waktu penyesuaian suku bunga simpanan dan kredit dalam 3-6 bulan ke depan. Penyesuaian itu juga amat bergantung pada kualitas kredit di masing-masing bank sehingga tidak akan menimbulkan potensi kenaikan kredit macet (Non Perfoming Loan/NPL) ke depan.

"Kondisi lain yang menjadi pertimbangan antara lain likuiditas pasar dan struktur cost of fund untuk suku bunga dana. Kedepannya, kami akan terus memantau perkembangan suku bunga acuan, posisi likuiditas, dan kompetisi di pasar, agar rate yang kami berikan ke nasabah tetap kompetitif," kata Rudi.

Sedangkan dari sisi industri, lanjutnya, kondisi perbankan Indonesia saat ini cukup baik dengan tingkat pemodalan yang cukup kuat dan kondisi likuiditas yang terjaga dengan baik. Pertumbuhan kredit juga terus terakselerasi sejalan dengan pemulihan ekonomi.

Di sisi lain, kualitas aset juga terus membaik sejalan dengan pemulihan di berbagai sektor industri. Adanya potensi risiko inflasi dan kenaikan suku bunga juga sudah diperhitungkan oleh masing-masing bank dalam penyusunan stress test.

Lebih lanjut, Rudi memperkirakan pertumbuhan kredit untuk tahun ini masih akan kuat dan dapat mencapai 9,9% (yoy) di akhir tahun, sejalan momentum pemulihan ekonomi. "Berkaca pada hal tersebut, seiring dengan kondisi perekonomian domestik yang masih kuat kami optimis pertumbuhan kredit Bank Mandiri mampu mencapai target yang ditetapkan yakni sebesar 11%," kata dia.

"Terutama pada sektor-sektor yang prospektif seperti telekomunikasi dan jasa kesehatan. Tentunya dengan memperhatikan prinsip kehati-hatian," pungkas Rudi. (OL-4)

BERITA TERKAIT