19 September 2022, 14:04 WIB

Presiden: Petani Kedelai Jangan Dipusingkan Cari Pembeli


Andhika Prasetyo | Ekonomi

ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani
 ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani
Buruh tani memanen kedelai kualitas unggul berumur 90 hari di area persawahan Desa Tugurejo, Kediri, Jawa Timur. 

Presiden Joko Widodo menginstruksikan para menteri ekonomi untuk melakukan terobosan agar petani-petani kedelai di Tanah Air fokus pada upaya produksi. Para pelaku tani di lapangan tidak boleh dituntut bersusah payah mencari pasar demi menjual hasil panen mereka.

Demikian disampaikan Presiden Jokowi saat memimpin rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (19/9). "Tadi, arahan Pak Presiden, petani itu jangan disusahkan dengan pemasaran. Jadi petani tugasnya ya produksi saja," ujar Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin.

Ia pun mengaku sudah menyiapkan strategi guna menindaklanjuti instruksi tersebut. Ke depan, pemerintah menunjuk Badan Pangan Nasional dan sejumlah BUMN pangan untuk menjadi off taker bagi para petani kedelai di dalam negeri

Ketika para petani panen, kepanjangan tangan pemerintah itu akan membeli dengan harga yang menguntungkan. "Sehingga nanti petani kita berlomba-lomba karena sudah dijamin ada yang membeli dan harganya juga baik," jelas pria yang akrab disapa Zulhas itu.

Ia mengakui, saat ini, tata niaga kedelai di Indonesia masih belum jelas. Hal itu pula yang membuat para petani enggan menanam komoditas tanaman pangan tersebut.

Zulhas menyebut produksi kedelai nasional saat ini hanya berkisar 200 ribu ton per tahun. Jumlah tersebut turun drastis dari capaian pada era 1990-an yang mencapai 1,5 juta ton per tahun.

Karena skala tanam yang kecil, biaya produksi menjadi tinggi dan membuat kedelai lokal kalah saing dari sisi harga dengan produk impor.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan saat ini harga jual kedelai lokal di pasar berada di atas Rp10 ribu per kilogram. Sementara, harga kedelai impor hanya Rp7 ribu per kg.

"Petani itu tidak bisa tanam kalau harga di bawah Rp10 ribu per kg. Padahal, kalau kita bandingkan dengan impor, harganya hanya Rp7.700 per kg bahkan pernah menyentuh Rp6.000 per kg," ucap Airlangga. (OL-12)

 

BERITA TERKAIT