07 September 2022, 21:03 WIB

Diskusi Milenial Indonesia Bahas Jerat Krisis Energi Global


mediaindonesia.com | Ekonomi

dok.ant
 dok.ant
Salah satu sumber energi fosil, pengeboran minyak lepas pantai.

DEWAN Pengurus Pusat Milenial Indonesia menggelar Webinar Nasional bertema Menyelamatkan Indonesia Dari Jerat Krisis Energi Global. Webinar ini dihadiri ratusan generasi Milenial dari beragam Provinsi. Rangkaian diskusi ini telah berlangsung memantik diskusi sebelumnya mengenai kenaikan BBM dan Ancaman Inflasi.

Dalam sambutannya, Ketua Umum Milenial Indonesia Sureza Sulaiman menyebutkan, Indonesia disinyalir negara yang rentan terhadap krisis energi disebabkan cadangan energi yang berkisar 9-10 tahun lagi. Konsumsi BBM negara kita masih bergantung pada impor, sehingga perkembangan geopolitik menyebabkan banyak efek domino kepada isu energi di dalam negeri. 

"Agenda webinar ini dimaksudkan sebagai wadah menjawab tantangan tersebut. Dengan menggunakan segala daya upaya diharapkan Indonesia bisa bertahan di tengah situasi yang sulit ini," kata Sureza, Rabu (7/9).

Webinar ini dipandu oleh Yusuf Salam, Sekretaris Umum Milenial Indonesia. Sementara itu Dede Abdul Basyir dan Hanifa Sutrisna menjadi pembicara.

"Peristiwa pandemi Covid-19 merubah segala realitas termasuk isu energi dan perdagangan internasional. Sebelum pandemi, pemerintah Indonesia sedang bergerak ke arah energi terbarukan (Green energi) atau energi bersih, sayangnya terhambat karena peristiwa covid 19 melanda seluruh dunia," ujar Dede Abdul Basyir.

Selanjutnya, Dede Abdul Basyir menjelaskan beberapa peluang terkait energi akibat adanya perubahan musim di belahan Eropa. "Peluang baru terkait batu bara di Indonesia akibat adanya musim dingin di Eropa. Kebutuhan penghangat badan di masyarakat Eropa membuat pemerintah setempat menghidupkan Kembali PLTU yang sempat ditinggalkan," ungkap.

Di sisi lain, Hanifa Sutrisna sebagai pengamat energi menyampaikan keprihatinannya melihat kondisi pulau Kalimantan. "Kalimantan menjadi salah satu pulau sumber energi terbesar di negeri kita. Sayangnya, di lumbung energi sendiri terjadi ketimpangan energi dan penguasaan korporasi tunggal yang menjual kepada asing".

Optimalisasi kekayaan energi seperti gas alam, panas bumi dan angin sebagai basis terbaru untuk ketahanan energi sangat diperlukan. Selain itu, Hanifa menyarankan masyarakat menghindari kendaraan pribadi yang sifatnya tidak perlu, mengajak masyarakat mulai naik transportasi umum sekalipun masih adanya ketimpangan pemerataan transportasi di negeri kita.

Pemaparan dilanjutkan oleh Dr. Kapitra Ampera sebagai pengamat politik, menurutnya ada sepuluh penyebab krisis energi yang terjadi.

"Konsumsi berlebihan pada sumber daya alam, over populasi manusia, pemborosan energi, kurangnya memanfaatkan energi terbarukan, maraknya pembangunan infrastruktur, sistem distribusi yang buruk, bencana alam dan yang terakhir terjadi peperangan."

Terakhir, Mamit Setiawan menyebutkan beberapa masalah energi yang berkembang. “Adapun permasalahan energi dewasa ini belum adanya pengelolan berkelanjutan, infrastruktur terbatas, akses masyarakat mendapatkan energi masih belum maksimal, harga EBT masih terbilang mahal, net importir masih tergantung kondisi pasar". (OL-13)

Baca Juga: Tinjau Command Center Pertamina, Erick Thohir Pantau Stok dan Upaya Antisipasi Kebocoran BBM

BERITA TERKAIT