28 August 2022, 14:05 WIB

Tiongkok Dibayangi Ledakan Angka Pengangguran


Adiyanto | Ekonomi

Jade Gao/AFP
 Jade Gao/AFP
Para pencari kerja di Tiongkok di sebuah pameran bursa kerja

Zao Yuting  terpaksa bekerja lepas sebagai guru privat sampai dia menemukan pekerjaan penuh waktu. Perempuan berusia 22 tahun itu sudah berulangkali mengirimkan lamaran pekerjaan ke sejumlah perusahaan, namun nihil hasil.  Sarjana bahasa Inggris itu memaklumi kondisi ekonomi di negerinya, Tiongkok tengah lesu.

Zao tidak sendiri. Rata-rata anak muda seusianya kini sulit untuk mendapat pekerjaan. Data resmi yang dirilis bulan ini menunjukkan satu dari lima anak muda di kota-kota Tiongkok kehilangan pekerjaan pada Juli. Angka ini  lebih dari tiga kali lipat rata-rata nasional dan rekor tertinggi sejak Januari 2018.

Hampir 11 juta lulusan memasuki pasar kerja Tiongkok yang suram musim panas ini. Mereka mesti bersaing dengan jutaan pencari kerja lainnya di tengah pertumbuhan ekonomi yang hanya  0,4% pada kuartal kedua tahun ini, atau terlemah dalam dua tahun terakhir.

"Saya sudah mencari pekerjaan selama dua atau tiga bulan tetapi peluangnya tipis. Semakin lama makin besar tekanannya,” kata Zhao, seperti dikutip AFP, Minggu (28/8)

Perkembangan teknologi, termasuk di bidang pendidikan, membuat profesi Zhao sebagai guru privat juga terancam.

Para analis menyatakan kondisi ini lantaran melambatnya ekonomi yang diperparah dengan adanya kebijakan lockdown, ditambah membeludaknya angkatan kerja selama musim kelulusan pada  Juli dan Agustus.

Angka resmi pengangguran yang tercatat belum termasuk di kalangan pemuda pedesaan. “Populasi pengangguran sebenarnya bisa lebih dari dua kali lipat dari data resmi, “ kata Zhuang Bo, seorang ekonom di kelompok riset TS Lombard.

Tidak cuma angkatan kerja baru, para pekerja kerah putih yang berpengalaman juga sulit untuk mencari pekerjaan karena pertumbuhan di sektor manufaktur dan konstruksi juga melemah.

Di sebuah pameran bursa kerja di Shenzhen, para pencari kerja ini, baik muda maupun yang telah berpengalaman, rela antre berjam-jam.  "Tujuan saya adalah bekerja di Shenzhen, di Lembah Silikon-nya Tiongkok," kata Luo Wen, lulusan ilmu komputer kepada AFP.

"Tetapi setelah lebih dari empat bulan mencari, saya siap bekerja bahkan di kota yang lebih kecil, dengan bayaran lebih rendah," katanya lagi.

“Kenyataannya lebih serius daripada yang ditunjukkan data. Jika masalah terus berlanjut tanpa perbaikan, ini akan dengan mudah memicu  gangguan sosial,” kata Ho-fung Hung, pakar ekonomi politik  Tiongkok di Universitas Johns Hopkins.

Pemerintah telah berjanji untuk menawarkan keringanan pajak untuk usaha kecil dan menggelontorkan bantuan modal lebih banyak.

Perdana Menteri Li Keqiang mengatakan krisis ketenagakerjaan Tiongkok  sangat kompleks dan serius. Ia meminta perusahaan milik negara untuk membantu meningkatkan stabilitas ekonomi. (M-4)

 

BERITA TERKAIT