19 August 2022, 15:00 WIB

Sribu Dukung Kebangkitan UMKM Pascapandemi


Budi Ernanto | Ekonomi

AFP
 AFP
Ilustrasi pekerja lepas yang bergerak di bidang desain grafis.

MEREBAKNYA covid-19 hingga menjadi sebuah pandemi global selama dua tahun belakangan secara nyata memberikan dampak signifikan di berbagai sektor, terutama perekonomian.

Dilansir dari IMF, terjadi penurunan median GDP global sebanyak 3,9% dari 2019 ke 2020 sehingga situasi ini disebut sebagai penurunan ekonomi terburuk sejak era Great Depression.

Selain itu, laju inflasi hingga saat ini juga masih memperlihatkan peningkatan. Data per Mei 2022 tahun ke tahun (YoY) menunjukkan Amerika Serikat berada di 8,6%, sementara negara-negara di Uni Eropa berada di 8,1%. Meski laju inflasi YoY Indonesia masih di tingkat 4,35%, LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) menemukan setidaknya sebanyak 94,96% usaha terdampak selama pandemi.

Tentunya hal itu cukup mengkhawatirkan, mengingat pemulihan ekonomi bukanlah hal yang dapat dilakukan dalam semalam. Namun, Indonesia tampaknya mulai berbenah kembali. Upaya pemulihan ekonomi untuk terdampak pandemi terus dilakukan oleh pemerintah, salah satunya melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

PEN secara khusus mengalokasikan anggaran sebesar Rp162,40 triliun untuk mendorong UMKM. Berkat program ini, pemerintah mencatat setidaknya 84% UMKM kembali beraktivitas.

Tren positif serupa juga direkam oleh Sribu (PT Sribu Digital Kreatif). Sebagai platform penyedia jasa pekerja lepas (freelancer), Sribu mendapati peningkatan data transaksi sebesar 8,7% sepanjang 2020–2021.

Meningkatnya Gross Transaction Value (GTV) ini menjadi pertanda baik apabila dibandingkan dengan data 2019–2020 yang mengalami penurunan hingga 20%. Ryan Gondokusumo, CEO Sribu, berpendapat, “Tren peningkatan GTV diperkirakan akan terus berlangsung hingga penghujung 2022. Hal ini bisa diartikan sebagai tanda kembalinya geliat UMKM Indonesia yang sempat lesu selama pandemi.”

Baca juga: Kesehatan Mental Adalah Fondasi untuk Masa Depan Anak

Dalam upaya mendorong pemulihan ekonomi, Sribu beranggapan bahwa para pelaku UMKM semestinya memiliki mindset yang terbuka terhadap penggunaan freelancer dalam mendukung pertumbuhan usahanya.

“Dari awal kemunculan Sribu, kami terus berupaya menjadi alternatif bagi UMKM untuk menyediakan berbagai kebutuhan usahanya, terutama di bidang branding dan marketing. Dari desain logo dan perlengkapan produk, konten media sosial, hingga pembuatan website, para pengusaha bisa mendapatkan banyak alternatif outsource sesuai budget dari ribuan freelancer terkurasi yang bergabung dengan Sribu,” sambung Ryan.

Praktik outsourcing kini memang menjadi pilihan ideal bagi UMKM–bahkan sudah menjadi praktik yang lumrah dilakukan secara global. Tidak hanya memberikan efisiensi dalam segi operasi usaha, outsourcing juga memberikan fleksibilitas dari segi waktu dan cara. Lebih lanjut, para pengusaha bisa memberikan perhatian dan budget-nya lebih banyak pada diversifikasi produk atau jasa, hingga ekspansi usaha.

Mengutip survei yang dilakukan Cyrus Network, milenial dan Gen Z pun sepakat dalam kecenderungannya memilih menjadi freelancer dibanding karyawan tetap. Dampaknya ke depan, pelaku usaha bisa mendapatkan lebih banyak opsi outsource untuk berbagai keahlian.

Mengusung tema besar HUT ke-77 RI pada tahun ini, 'Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat', Sribu turut mendukungnya dengan meluncurkan program Paket Hemat UMKM. Program ini meliputi berbagai penawaran jasa desain hingga pembuatan konten dengan pemotongan nilai jasa hingga 50% dari nilai normal yang dapat diakses di bit.ly/paket-hemat-umkm. 

“Program ini kami harapkan dapat membantu akselarasi pemulihan UMKM. Karena bukan hanya diperuntukkan bagi teman-teman yang sudah menjadi pelaku usaha, justru teman-teman calon pelaku usaha pun diharapkan bisa jadi lebih yakin untuk terjun dan melahirkan usahanya dengan adanya program yang kami sediakan ini,” tutup Ryan. (R-3)

BERITA TERKAIT