10 August 2022, 22:27 WIB

South Pacific Viscose Tampilkan Produk Serat Ramah Lingkungan di Indointertex-Inatex 2022


Antara | Ekonomi

Dok.South Pacific Viscose
 Dok.South Pacific Viscose
Booth South Pacific Viscose di dalam acara Indo Intertex 2022 yang digelar pada 10-13 Agustus di Arena PRJ, Kemayoran, Jakarta Pusat. 

PT South Pacific Viscose (SPV) menampilkan dua merek serat ramah lingkungan unggulannya pada pameran Pameran Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) international, Indo Intertex-Inatex 2022 di Jakarta International Expo, Kemayoran yang berlangsung pada 10 – 13 Agustus 2022.

Kedua merek yang didistribusikan di Indonesia tersebut, TENCEL™ dan LENZING™ECOVERO™, berbahan dasar kayu yang tersertifikasi dan ramah terhadap lingkungan. "Kedua merek serat tersebut juga menjadi highlight selama pameran," papar Corporate Affairs Manager PT South Pacific Viscose, Sigit Indrayana, ditemui di lokasi pameran, Rabu (10/8).

Dia menjelaskan produk ramah lingkungan ini merupakan komitmen dalam menerapkan best practices sustainability dalam mendorong penerapan sirkular ekonomi di Indonesia dan bisa berkontribusi bagi program pemerintah dalam menerapkan Net-Zero Emission pada 2050.

Sigit menambahkan PT South Pacific Viscose (SPV), merupakan bagian dari Lenzing Group, perusahaan penghasil serat berbahan selulosa kelas dunia yang selalu mengedepankan prinsip keberlanjutan dalam setiap proses produksi yang dijalankan.

Pada kesempatan yang sama Head of Commercial Textile, Lenzing Group SEA & Oceania, Winston A. Mulyadi, mengatakan TENCEL™ saat ini sedang dalam proses menuju True Carbon Zero, agar bisa berkontribusi pada industri tekstil yang bebas emisi karbon. pada 2020, serat bebas karbon pertama di industri yakni TENCEL™ Carbon Zero berhasil diluncurkan oleh Lenzing.

"Dalam satu dekade mendatang, kita akan melihat lebih banyak inovasi berbasis keberlanjutan dalam rangka mewujudkan visi bebas karbon di  2050,” tuturnya.

Sementara itu, serat LENZING™ ECOVERO™ diproduksi dengan standar yang lebih tinggi dibanding dengan serat viscose di pasaran saat ini karena menggunakan proses produksi yang lebih ramah lingkungan, emisi karbon  50% lebih rendah dan dampak penggunaan air yang lebih sedikit serta telah disertifikasi oleh EU Ecolabel.

"Serat ini dapat terurai secara hayati dan secara alami kembali ke alam setelah dibuang, sebagaimana disertifikasi oleh TÜV AUSTRIA," ujar Winston.

Selain itu, LENZING™ ECOVERO™ memiliki sertifikasi FSC dan PEFC, standar EU eco label, dan mendukung perlindungan terhadap hutan kuno yang hampir punah. "Ini membuktikan bahwa kayu yang digunakan adalah kayu untuk industri, bukan illegal logging," tegasnya.

Winston menambahkan LENZING™ ECOVERO™ akan mulai diproduksi oleh SPV di Indonesia pada Maret 2023.

Diapresiasi

Pada pameran tersebut Plt Dirjen Industri Kimia Farmasi dan Tekstil Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Ignatius Warsito mengapresiasi Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) yang tetap bertahan selama pandemi, bahkan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.

"Ini adalah momentum yang sangat baik agar terjadi business matching antara pelaku bisnis mesin dan pelaku tekstil, sehingga kita bisa bersama-sama membangun ekosistem tekstil ini secara terintegrasi. Semoga penyelenggaraan Indointertex dan Inatex dapat berjalan lancar dan sukses," katanya .

Hingga Juli 2022, dia mengatakan komoditas unggulan itu telah mencatatkan nilai ekspor hingga US$6,08 miliar atau berkontribusi sebesar 5,51% terhadap total ekspor nasional.

Warsito berharap penyelenggaraan Indointertex-Inatex 2022 dapat semakin memantapkan agenda pemerintah dalam Making Indonesia 4.0 untuk mendorong transformasi industri tekstil yang lebih berdaya saing dan berinovasi tinggi sehingga dapat bersaing dan menjawab permintaan pasar global. (E-3)

 

BERITA TERKAIT