05 August 2022, 16:28 WIB

Sejumlah Perusahaan Besar Ingin Merger dengan Doeku Peduli Indonesia


Mediaindonesia | Ekonomi

DOK Pribadi.
 DOK Pribadi.
Hendra Dwisejoputro.

PT Doeku Peduli Indonesia dilirik oleh beberapa institusi financial technology, baik lokal maupun international, untuk melakukan kolaborasi bisnis. Ia merupakan salah satu platform peer to peer lending di Indonesia yang berizin penuh (fully licensed) resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dimiliki 99% sahamnya oleh PT Hensel Davest Indonesia Tbk (HDIT).

Direktur PT Doeku Peduli Indonesia, Hendra Dwisejoputro, mengatakan perseroan harus memilih mitra yang memiliki jaringan internasional dan pengalaman advance technology jika akan merger. Dengan demikian, kedua perusahaan akan menghasilkan sinergi dengan kelebihan kekuatan masing-masing dan ke depan menambah laba, nilai perusahaan, dan daya saing perusahaan.
 
Sudah beberapa grup perusahaan yang intens melakukan komunikasi. Di antaranya ada perusahaan finansial terbesar dan terkemuka di Singapura. Ada juga institusi finansial yang sahamnya sudah tercatat di papan bursa saham NASDAQ dan salah satu perusahaan FMCG lokal terbesar. "Saat ini kami masih mempertimbangkan beberapa aspek untuk memilih kolaborasi yang terbaik dalam arti dapat memberikan kontribusi maksimal terhadap pengembangan bisnis dan peningkatan value dari perusahaan kami, baik secara fundamental maupun jaringan bisnis yang kemungkinan bisa didapatkan Doeku, sebagai hasil apabila terjadi merger nanti," ujar Hendra dalam keterangan tertulis, Jumat (5/8).

Dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, Doeku juga berharap bisa mendapatkan mitra yang memiliki visi yang sama. Hendra berharap di masa yang akan datang pihaknya ingin sekali mengembangkan blockchain technology. 

Blockchain technology bisa memberikan solusi dengan mendukung skema pinjaman peer to peer (P2P) atau P2P lending. Dalam mekanisme pinjaman ini, individu atau perusahaan dapat langsung meminjamkan uang kepada orang lain dan mendapatkan keuntungan dari bunga pinjaman. Hambatan berupa persyaratan yang rumit antara kedua belah pihak (peminjam dan pemberi pinjaman) dapat dikurangi. Suku bunga bisa dikurangi sebisa mungkin karena proses yang lebih efisien.

Beberapa hal yang menarik dari teknologi blockchain yaitu dengan general ledger sebagai kemampuan untuk mencatat detail transaksi. Blockchain mampu menyimpan kerahasiaan data dengan kemampuan menyembunyikan identitas peminjam maupun pemberi pinjaman. Blockchain juga memiliki tingkat keamanan yang tinggi sehingga transaksi tidak dapat diubah oleh siapapun tanpa melalui persetujuan (konsensus).

"Dengan teknologi blockchain, peminjam bisa mudah meminjam tanpa proses yang berbelit-belit. Dari sisi pemberi pinjaman, mendapatkan jaminan pembayaran tepat waktu sehingga tidak waswas dalam melakukan investasi di sektor peminjaman online," jelas Hendra.

Saat ini Doeku mencatat peningkatan pesat dalam disbursement penyaluran pinjaman dana modal kerja kepada UMKM yaitu sebesar Rp63.525.000.000 di tahun buku Desember 2021 atau naik 13,2% dibandingkan dengan penyaluran pinjaman pada 2020 sebesar Rp4.834.500.000. Sedangkan catatan kuartal II Juni 2022, disbursement modal kerja sudah mencapai Rp37.072.500.000 atau naik 58,3% yoy. Untuk laba kotor tahun buku 2021, Doeku mencatatkan peningkatan sebesar 25,8% yaitu Rp7.849.011.908 dibandingkan dengan laba kotor tahun sebelumnya Rp303.540.512. Sedangkan untuk kuartal II 2022, laba kotor Doeku tercatat sebesar Rp5.029.250.640. 

Business plan perseroan saat ini menitikberatkan pada pengembangan bisnis untuk lender publik serta pengembangan disbursement dalam jaringan FMCG dengan skema invoice financing bagi merchant dengan total Rp2 miliar. Sedangkan perencanaan bisnis jangka pendek, manajemen Doeku berharap perseroan dapat melakukan Initial public offering (IPO) di tahun mendatang. (OL-14)

BERITA TERKAIT