21 July 2022, 23:51 WIB

Dunia Usaha Sambut Baik Keputusan BI Pertahankan Suku Bunga Acuan


M Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

Antara
 Antara
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani

DUNIA usaha menyambut baik keputusan Bank Indonesia kembali menahan suku bunga acuan di level 3,5%. Sebab, mayoritas bank sentral di dunia saat ini sedang menaikan tingkat suku bunga untuk menahan laju inflasi yang berlebihan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani menuturkan, keputusan BI tersebut layak diapresiasi. Namun dia juga menekankan agar respons yang diberikan atas kebijakan itu tidak ditanggapi secara berlebihan.

"BI tetap firm untuk tidak menaikkannya itu kita apresiasi. Menurut saya ini adalah sesuatu hal yang biasa, naik turun, dan kita tidak perlu merespons itu berlebihan. Karena itu membuat pasar makin bereaksi berlebihan," ujarnya saat dihubungi, Kamis (21/7).

Kepercayaan BI untuk menahan tingkat suku bunga acuan juga menurutnya mencerminkan optimisme bank sentral, pemerintah, dan dunia usaha terhadap perekonomian nasional. Alih-alih latah ikut menaikan suku bunga acuan, BI justru menunjukkan kepercayaan diri yang kuat.

Hariyadi menyampaikan, langkah BI itu juga mestinya diikuti oleh perbankan nasional. Dengan begitu dunia usaha dapat bergerak lebih leluasa dan juga akan berdampak pada peningkatan kredit.

"Kita harapkan juga adalah dari perbankan, karena BI tidak menaikan suku bunga, maka seharusnya perbankan juga memberikan respons yang positif. Jadi perbankan kami harap mengikuti BI, tidak menaikan suku bunga kredit," tuturnya.

Dunia usaha Indonesia, kata Hariyadi, meyakini prospek bisnis dalam beberapa waktu ke depan cukup benderang. Sebab, berbagai indikator perekonomian menunjukkan hal yang menjanjikan.

Salah satu peluang yang mestinya bisa dioptimalisasi adalah dari sisi perdagangan. Terlebih saat ini Indonesia telah menerapkan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi dagang dengan Tiongkok dan Jepang.

Hal tersebut, menurut Hariyadi, harus dimanfaatkan dengan baik oleh pelaku usaha Tanah Air. "Itu harus dimanfaatkan sebesar-sebesarnya, karena perdagangan dengan mereka itu sekarang menggunakan uang lokal, apakah itu rupiah, yuan maupun yen," jelasnya.

Sedangkan dari dalam negeri, Indonesia harus bisa mengoptimalkan pasar yang besar melalui substitusi impor. Pasalnya pertumbuhan ekonomi Indonesia sejauh ini didominasi oleh kontribusi konsumsi rumah tangga.

"Sebisa mungkin pasar-pasar yang diisi oleh barang-barang impor sebisa mungkin sekarang harus dilakukan pengisian oleh barang lokal. Tapi itu bukan berarti ekspor berhenti, harus tetap jalan, karena sekarang ekspor kita sedang tinggi-tingginya meski didominasi oleh komoditas," pungkasnya. (OL-8)

BERITA TERKAIT