19 July 2022, 16:11 WIB

Ada Ancaman Resesi, SKK Migas Gencar Bidik Investor 


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

Antara
 Antara
Potret penampungan gas di kilang RU V Balikpapan, Kalimantan Timur.

SATUAN Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) berupaya mengincar investasi migas di tengah ancaman resesi ekonomi. Khususnya, di tengah konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina, berikut dampak pandemi covid-19.

Tenaga Ahli Kepala SKK Migas Luky Agung Yusgiantoro mengungkapkan industri migas tengah mengalami fenomena supercycle, yang memicu kenaikan harga komoditas berlangsung lebih lama akibat krisis.

"Potensi ke depan, harga minyak naik, meskipun banyak yang prediksi turun. Soal strategi, SKK Migas terus upayakan mengundang investasi dengan cara memperbaiki kebijakan insentif, kemudian roadshow," ujar Luky, Selasa (19/7).

Baca juga: Investasi Migas belum Melesat, Baru Sekitar Rp72 Triliun

Menurutnya, kinerja ekonomi domestik diyakini masih kuat dan terjaga. Hal ini didukung potensi sumber daya alam yang melimpah, salah satunya dari sektor migas. Hingga Juni 2022, penerimaan negara dari hulu migas mencapai US$9,7 miliar atau sekitar Rp140 triliun.

"Kita beruntung Indonesia itu masih kaya dengan sumber daya alam. Kita masih ada oil and gas yang melimpah. Kita melakukan strategi yang menarik investor masuk ke dalam negeri, untuk mencapai 1 juta barel minyak per hari," imbuhnya.

Untuk mengejar target 1 juta barel minyak per hari dan gas sebesar 12 miliar kaki kubik per hari pada 2030, SKK Migas membutuhkan investasi hingga US$26 miliar atau sekitar Rp389 triliun. Jemput bola investasi pun akan digencarkan dengan roadshow ke perusahaan migas di luar negeri. 

Luky menekankan bahwa selain The Seven Sisters atau perusahaan minyak terkemuka yang terdiri dari Exxon, Royal Ducth/Shell, British Petroleum (BP), Mobil, Chevron, Gulf Oil dan Texaco, pihaknya turut mengincar investasi ke perusahaan migas nasional (NOC) lainnya.

Baca juga: Amerika-Saudi Teken 18 Perjanjian Bisnis, termasuk Energi Nuklir

"Dulu dikuasai Seven Sisters, sekarang 70% resources and research minyak dunia dikuasai nasional oil company (NOC). Ada tujuh NOC, seperti Rosneft dari Rusia," paparnya.

Plt Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Mohammad Kemal mengakui saat ini investasi di sektor migas masih stagnan, karena berbagai faktor. Seperti, tidak semua perbankan mau memberikan pinjaman pada proyek migas.

Kemudian, dalam pertemuan dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), diketahui bahwa investor belum mau menaikkan kapasitas produksi di tengah fluktuasi harga komoditas migas.(OL-11)
 

BERITA TERKAIT