19 July 2022, 13:19 WIB

Jejak Digital Bisa Membahayakan Karier


Mediaindonesia.com | Ekonomi

capital-staff.com
 capital-staff.com
Ilustrasi 

DUNIA serba memanfaatkan internet dan teknologi untuk memudahkan kehidupan sehari-hari. Pada Februari 2021, We Are Social mencatat penambahan jumlah pengguna internet Indonesia terjadi setiap tahunnya dan kini mencapai 204,7 juta dengan 170 juta di antaranya telah aktif di media sosial. Penggunaan internet rata-rata orang Indonesia pun terbilang tinggi yakni 8 jam per hari. Bisa dibayangkan hampir sepertiga waktu dihabiskan di ruang digital.

"Penting untuk berhati-hati dengan apa yang kita unggah di internet karena hal tersebut dapat digunakan untuk merugikan kita," kata Komite Media Sosial Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Silma Agbas di Tulungagung, Jawa Timur pada Sabtu (16/7).

Dalam dunia kerja, berdasarkan artikel yang diunggah Linovhr.com (2018) terdapat beberapa parameter yang bisa dipakai untuk menilai calon karyawan melalui media sosialnya. Seperti kalimat yang sering diunggah, foto-foto, interaksi yang dilakukan, serta lingkaran pertemanan calon pelamar.

Beberapa contoh jejak digital yang negatif yakni komentar negatif menimbulkan reaksi pemecatan. Menghina seseorang karena ujaran rasis di ranah publik juga mendapatkan dampak pemecatan. Lalu bagaimana agar menghindari jejak digital negatif? Lebih lanjut Silma mengatakan setiap pengguna membiasakan diri untuk menyaring konten negatif seperti tindakan cyberbullying, hate speech, dan informasi bohong. Jangan sampai ikut berkomentar maupun menyebarkan konten negatif tersebut.

Kenali ciri-ciri konten negatif seperti hoaks yang dapat diketahui dari tulisan judul bombastis, upaya memanipulasi foto dan keterangan gambar, memiliki narasi yang provokatif, dan biasanya tidak mencantumkan nama penulis dan sumbernya tidak jelas. (OL-12)

BERITA TERKAIT