15 July 2022, 16:42 WIB

Asosiasi Dukung Penerbitan CBDC oleh Bank Indonesia


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

AFP
 AFP
Warga di Miami, Florida, melintasi logo bitcoin.

BANK Indonesia tengah mendalami desain dan penerbitan Central Bank Digital Currency (CBDC). Adapun bank sentral merencanakan penerbitan white paper pengembangan rupiah digital pada akhir 2022.

Salah satu hal yang melatarbelakangi pengembangan CBDC ialah aset kripto. Mayoritas bank sentral dunia mulai melakukan tahapan riset dan percobaan sesuai dengan karakteristik negaranya masing-masing. 

Menurut data Atlantic Council,lebih dari 100 negara yang mewakili lebih dari 95% PDB global, sedang menjajaki penerbitan CBDC. Dari jumlah tersebut, 10 negara sudah resmi meluncurkan CBDC.

Baca juga: Indodax: Penurunan Harga Bitcoin saat ini Siklus Empat Tahunan

Lalu, 15 negara masih dalam tahap pilot project, 24 tahap pengembangan, 43 tahap riset (termasuk Indonesia), 10 negara CBDC-nya tidak aktif dan 2 negara membatalkan penggunaan CBDC.

Pembahasan mengenai desain CBDC terus menjadi perhatian bank sentral di setiap negara, termasuk Indonesia. Salah satunya mengenai skema yang paling cocok diimplementasikan. Selain itu, dukungan dan masukan industri juga penting bagi bank sentral dalam merencanakan desain CBDC.

Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) Teguh Kurniawan Harmanda menyambut baik rencana peluncuran CBDC oleh Bank Indonesia. Pemerintah telah membuka diri terhadap perkembangan teknologi layanan keuangan agar tetap relevan. 

Tujuan utama CBDC dan aset kripto sejalan dan punya pandangan yang sama. Di Indonesia, kripto diakui sebagai komoditi, bukan mata uang untuk alat pembayaran. CBDC dan aset kripto bisa berjalan beriringan dan saling melengkapi.

Keduanya bisa mendorong inklusi keuangan dengan menyediakan akses layanan yang mudah dan aman bagi populasi yang tidak memiliki rekening bank. BI mencatat ada sekitar 92 juta penduduk di Indonesia belum mempunyai rekening bank.

Baca juga: KPK: Kripto Meningkatkan Risiko Pencucian Uang

"Kami siap berdiskusi dengan seluruh stakeholder untuk memberikan kontribusi menciptakan desain CBDC yang sempurna diterapkan di Indonesia. CBDC memerlukan kerangka peraturan yang bersinergi dan kompleks, termasuk mendukung inovasi, privasi dan perlindungan konsumen," ujar Teguh dalam keterangannya, Jumat (15/7).

Terdapat sejumlah tantangan yang perlu dipertimbangkan sebelum menerbitkan CBDC. Misalnya, memperhatikan kestabilan sistem keuangan dan pemilihan teknologi yang digunakan pada tahap eksperimen. Dalam hal ini, untuk memahami implementasi CBDC, baik menggunakan teknologi DLT-Blockchain maupun non-DLT.

Salah satu negara pertama di dunia yang telah menerapkan CBDC yang terbilang sukses adalah Bahama. Sand Dollar adalah versi digital dari dolar Bahama (B$). Seperti uang tunai, Sand Dollar dikeluarkan oleh Bank Sentral Bahama melalui lembaga keuangan resmi.(OL-11)

 

BERITA TERKAIT