29 June 2022, 12:11 WIB

Mentan: Krisis Pangan Di Depan Mata, Perbaiki dan Pertajam Program yang Ada


Despian Nurhidayat | Ekonomi

Antara
 Antara
Ilustrasi

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo meminta seluruh jajaran Kementerian Pertanian untuk memperbaiki dan mempertajam program yang ada. Hal ini perlu dilakukan karena krisis pangan dikatakan sudah ada di depan mata dan Indonesia harus bersiap menghadapi hal ini.

"Krisis pangan sudah di depan mata. Banyak negara yang sudah tidak bisa bayar utang, sangat miskin dan pengangguran di mana-mana. Ada 60 negara dan 40 negara di antaranya dalam proses kehancuran. Itu dari data berbagai lembaga dunia," ungkapnya dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Pertanian Nasional 2022 untuk Perencanaan 2023 secara virtual, Rabu (29/6).

Lebih lanjut, Syahrul merasa bahwa sampai saat ini, seluruh jajaran Kementan belum melaksanakan program secara maksimal. Dia menekankan bahwa seluruh program yang dilakukan harus memiliki hasil yang jelas dan nyata.

"Jangan hanya yang perting bagi-bagi bibit ke seluruh Indonesia, tapi enggak diikuti apa hasilnya. Ganti tahun bagi (bibit) lagi. Kalau kita enggak tahu harus melakukan apa dan sekadar bagi-bagi saja hasilnya tidak maksimal. Kadang baginya sudah benar tapi enggak tahu apakah ditanam, dipupuk, dipelihara, ditaruh ke mana, arahnya ke mana," ujar Syahrul.

"Strategi kita ini tidak cukup, harus menghasilkan yang lebih. Tantangan pertanian ini enggak kayak kemarin lagi, semua berbahaya bagi kehidupan bangsa kalau kita tidak hati-hati dan menganggap remeh saja," lanjutnya.

Syahrul juga menekankan bahwa saat ini tengah terjadi kenaikan harga pangan yang disebabkan oleh biaya produksi yang mahal serta distribusi yang juga terganggu.

Maka dari itu, diperlukan strategi yang berbeda dalam menyikapi segala permasalahan pangan yang saat ini tengah menimpa seluruh dunia.

"Jadi strateginya harus berbeda. Kalau kita enggak bisa dapat gandum, coba kita ganti dengan sagu. Pupuk juga kita produksi sendiri saja. Biodiesel dari jerami juga bisa dimanfaatkan karena dapat menghasilkan minyak. Nah ini kan namanya tantangan menjadi peluang," tegas Syahrul.

"Ayam dan telur juga misalnya, Singapura itu sedang kesulitan karena biasanya mereka ambil dari Malaysia. Masalahnya Malaysia menutup semua pangannya karena untuk konsumsi selama 2 tahun. Kita ini ayam 3 miliar lebih dan telurnya kurang lebih 2 miliar. Ini kesempatan tapi harus dipikirkan kembali jangan kita jadi bodoh. Kalau mau ekspor, buat konsumsi dalam negeri juga harus ada," pungkasnya. (OL-12)

BERITA TERKAIT