28 June 2022, 17:29 WIB

Penjualan Bersih Darya-Varia Kuartal I Tumbuh 32%


Mediaindonesia.com | Ekonomi

DOK MI.
 DOK MI.
Ilustrasi.

PT Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) berhasil mencetak pertumbuhan kinerja keuangan yang solid. Hal ini terlihat dari kinerja sepanjang kuartal I 2022 DVLA mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp646,3 miliar atau tumbuh 32% dibandingkan periode sebelumnya. 

Pertumbuhan itu ditopang oleh kinerja segmen bisnis consumer health dengan penjualan Rp355,2 miliar atau meningkat 69%. Sedangkan bisnis obat resep tumbuh 6% menjadi Rp219,4 miliar. Total penjualan bersih pada toll manufaktur dan  ekspor sebesar Rp71,7 miliar. Ini sedikit menurun dari angka periode yang sama 2021 sebesar Rp72 miliar.

Kinerja keuangan DVLA positif itu merupakan kelanjutan dari tahun lalu yang juga membukukan kinerja keuangan yang tumbuh solid. Pada 2021, DVLA berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan tahunan sebesar Rp1,9 triliun, meningkat 4% dibandingkan dengan pendapatan tahun sebelumnya. Kinerja yang positif ini didorong oleh pertumbuhan penjualan consumer health sebesar Rp943 miliar (naik 11%), obat resep sebesar Rp660 miliar(naik 4%), dan bisnis toll manufacturing dan ekspor sebesar Rp298 miliar turun 15%.

Hal itu terungkap dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Paparan Publik Darya-Varia yang diselenggarakan secara online di Jakarta, Selasa (28/6). Dalam kegiatan tersebut, ada dua agenda penting yakni memaparkan serta menyetujui Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan 2021. 

Agenda lain berupa persetujuan atas perubahan susunan direksi perseroan. Rapat menyetujui pengunduran diri Maria Christina D Carnay sebagai direksi. Posisi Maria digantikan oleh Celso Paz Lim. 

Head of Legal & Corporate Affairs Darya-Varia Laboratoria Widya Olivia Tobing memaparkan bahwa di 2021, perseroan juga berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp147 miliar. Sedangkan laba komprehensif tahun berjalan perseroan mengalami pertumbuhan yaitu Rp172 miliar atau meningkat 25% dibandingkan pada 2020. 

Kinerja tahun lalu yang moncer itu bisa dilihat dari total aset Darya-Varia yang naik 5% menjadi Rp2,086 triliun dibandingkan 2020 sebesar Rp1,987 triliun. Total liabilitasnya juga naik 7% di 2021 menjadi Rp705 miliar yang sebelumnya pada 2020 sebesar Rp660 miliar. Untuk total ekuitas, di tahun lalu sebesar Rp1,381 triliun atau naik 4% dibandingkan 2020 sebesar Rp1,326 triliun.  

Perolehan pendapatan Darya-Varia itu terfokus pada tiga segmen bisnis, yakni consumer health, obat resep, serta ekspor dan toll manufacturing. Obat-obat tersebut tersebar di Filipina, Malaysia, Vietnam, Myanmar, dan Mongolia. Pada 2021, diluncurkan lima produk baru yakni Remscar, Carvilol, Ondavar, Etorix, dan Forti-D," ujar Widya. Selama 2021, dua pabrik Darya-Varia di Gunung Putri dan Citeureup mengalami kenaikan kapasitas produksi. Sebesar 80% naik untuk kapsul vitamin, kemudian 40% naik untuk produk vitamin dan suplemen, serta naik 20% untuk produk infus antibiotik.

Baca juga: Ekonom Ungkap 3 Hal yang Sebabkan Harga Sawit Masih Anjlok

Widya memaparkan, strategi bisnis tahun ini disusun oleh perseroan berdasarkan pertimbangan ketidakpastian yang muncul dari efek lanjutan perkembangan situasi pandemi. Menghadapi situasi dan potensi tersebut, DVLA berencana memperkuat inovasi dan mempertahankan kualitas proses GMP (CPOB) di seluruh fasilitas pabrik. "Divisi Consumer Health akan mempertajam pendekatan pemasarannya untuk produk-produk yang tidak terkait covid-19 di seluruh portofolionya. Untuk meningkatkan kinerja obat resep Darya Varia akan terus didukung oleh intensifikasi pelatihan dan pendidikan lanjutan bagi para dokter medis. Terakhir, untuk segmen tol manufacturing dan ekspor, perseroan terus menggarap pasar dengan membangun kemitraan baru di seluruh Indonesa maupun kawasan sekitar,” ujarnya. 

Perseroan juga melihat potensi kelangkaan pasokan khususnya komoditas energi dan pangan. "Untuk memastikan ketersediaan bahan baku, DVLA telah dan akan terus menjalin hubungan baik dengan produsen bahan baku farmasi sekaligus dengan penyedia layanan logistik. Dengan demikian, perseroan dapat mengamankan kebutuhan bahan bakunya untuk periode yang lebih panjang," pungkas Widya. (RO/OL-14)

BERITA TERKAIT