28 June 2022, 15:23 WIB

Ekonom Ungkap 3 Hal yang Sebabkan Harga Sawit Masih Anjlok


Despian Nurhidayat | Ekonomi

Antara
 Antara
Pekerja memanen tandan buah segar kelapa sawit di area perkebunan.

DIREKTUR Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan ada 3 hal yang menyebabkan anjloknya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di beberapa wilayah Indonesia.

"Pertama, kondisi pascalarangan ekspor sawit dicabut, masih terjadi kenaikan jumlah pasokan. Saat ini, pabrik CPO(Crude Palm Oil) masih memprioritaskan serapan TBS yang sebelumnya antre di pabrik, karena pelarangan ekspor," ujar Bhima saat dihubungis, Selasa (28/6).

Baca juga: Disurati Menko Luhut, BPKP Mulai Audit Perusahaan Sawit

"Dengan berlakunya DMO (Domestic Market Obligation), pasokan sawit juga memadai, khususnya untuk minyak goreng. Kalau harga minyak goreng mahal itu masalahnya ada di distribusi, bukan soal pasokan lagi," imbuhnya.

Menurut Bhima, faktor kedua ialah terkait permintaan CPO di luar negeri, yang anjlok 21% dalam sebulan terakhir menjadi 4.920 RM/ton. Selain itu, sinyal resesi dan kenaikan inflasi juga membuat konsumen dan industri di negara tujuan ekspor mengurangi permintaan CPO dari Indonesia.

"Ketika kontrak pembelian CPO terpengaruh pelambatan ekonomi di negara tujuan ekspor utama, imbasnya harga TBS anjlok," jelas Bhima.

Baca juga: Ekspor Minyak Kelapa Sawit Turun 87% pada Mei 2022

Adapun faktor ketiga, penegakan aturan terkait Permentan Nomor 1 Tahun 2018 tentang Pedoman Penetapan Harga Pembelian TBS Kelapa Sawit Produksi Pekebun, di mana penetapan harga TBS harus disaksikan kepala daerah, cenderung tidak diaplikasikan dengan baik.

"Peraturan ini hanya melindungi petani yang merupakan bagian dari inti-plasma perusahaan sawit. Sementara, petani mandiri tidak menggunakan acuan dari permentan. Sejak awal, permentan ini bak macan ompong," tutupnya.(OL-11)

 

BERITA TERKAIT