25 June 2022, 20:42 WIB

Tingkat Literasi Asuransi di Indonesia Masih Tergolong Rendah


mediaindonesia.com | Ekonomi

Ist/BRI
 Ist/BRI
CEO BRI Insurance (BRINS) Fankar Umran.

TINGKAT literasi asuransi di Indonesia masih rendah. Hal tersebut dibuktikan dengan masih banyaknya pengaduan masyarakat kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Jika dibandingkan dengan negara tetangga, tingkat literasi dan kepesertaan asuransi di Indonesia relatif rendah.

Namun meski begitu, pertumbuhan dari premi asuransi setiap tahun cukup signifikan.

“Dari OJK ada kewajiban perusahaan asuransi wajib melakukan literasi, tetapi tidak mudah menjangkaunya,” kata CEO BRI Insurance (BRINS) Fankar Umran melalui Instagram Live Tempo, baru-baru ini.

Luasnya Indonesia dengan penduduk tersebar, lanjut dia, menjadi salah satu kendala untuk literasi asuransi. 

Untuk itu, BRINS banyak melakukan kampanye baik melalui media webinar, cetak, TV untuk memberikan literasi kepada masyarakat.

Baca juga: Rama Satria Wibawa Dinobatkan Jadi Perusahaan Asuransi Terbaik di Indonesia Golden Award 2022

Fankar bahkan kerap memberikan edukasi di tempat-tempat seperti kafe untuk menyasar generasi muda. “Karena asuransi itu perlu diketahui sejak dini,” ujar dia. 

Fankar mengatakan, selama ini masyarakat memang lebih menyadari ke asuransi jiwa atau kesehatan, namun tidak untuk asuransi rumah dan kendaraan.

“Mereka membayangkan kalau kendaraannya rusak, maka bawa ke bengkel sendiri menggunakan biaya sendiri,” ujar dia. 

Padahal, lanjut Fankar, mereka belum tau benefit atau keuntungan berasuransi. “Asuransi itu kita membayar premi sekecil-kecilnya untuk manfaat sebesar-besarnya.” 

Dia mencontohkan, jika memiliki rumah Rp 1 miliar, maka asuransi yang dibayarkan sekitar Rp 600 ribu – Rp 1 juta setahun.

“Kalau asuransi tidak ada, terjadi gempa atau kebakaran, maka mengganti uang Rp 1 miliar itu banyak,” ujar Fankar. 

Sementara untuk kendaraan, BRI Insurance telah meluncurkan produk asuransi sepeda motor terbaru yaitu Asuransi Mikro Motorku.

Menurut Fankar, setidaknya terdapat tiga risiko yang mungkin terjadi pada para pengendara motor yang bisa dijamin dengan Asuransi Mikro Motorku.

Dengan asuransi ini, erugian akibat sepeda motor dicuri atau rusak total akibat kecelakaan, kemudian kecelakaan diri pengendara, dan tanggung jawab hukum pihak ketiga.

Menurutnya, Asuransi Mikro Motorku akan melindungi pemilik atau pengendara akibat sepeda motornya dicuri dengan paksaan atau kekerasan dan tidak ditemukan dalam kurun waktu 30 hari sejak tanggal kejadian.

“Ini juga mencakup ketika sepeda motor mengalami kerusakan total akibat benturan, tabrakan, tergelincir, terperosok yang menyebabkan kerugian dan atau biaya perbaikan 100% dari harga kendaraan,” jelasnya. 

Kemudian, lanjut dia, perlindungan untuk kecelakaan diri pada saat mengendarai motor yang mengakibatkan meninggal dunia atau cacat tetap keseluruhan akibat kecelakaan yang mengakibatkan luka badan yang dapat ditentukan oleh Iimu kedokteran.

Fankar mengatakan, saat ini meskipun membawa kendaraan hati-hati, namun ada saja orang yang tidak hati-hati.

“Risikonya sama saja. Ketika bertabrakan, ada orang yang menuntut, kalau tidak punya asuransi kendaraan, kita bayar sendiri," katanya.

"Sama saja risikonya. Apapun di jalan raya bisa terjadi, tak terduga. Lebih baik berasuransi daripada ada hal yang tak terduga,” kata Fankar. 

Dia pun memastikan dengan hanya membayar premi Rp 50 ribu per tahun rata untuk semua kendaraan di bawah tujuh tahun dan di bawah 250 cc, maka jika terjadi musibah tak terduga akan diberikan biaya santunan sampai dengan 7,5 juta.

‘Asuransi motor ini sederhana, mudah, dan terjangkau,” ujar dia. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT