23 June 2022, 23:12 WIB

Gejolak Pasar Keuangan Global Sebabkan Rupiah Terdepresiasi


Despian Nurhidayat | Ekonomi

Antara
 Antara
Ilustrasi pegawai gerai penukaran valas saat menunjukkan rupiah dan dolar AS.

BANK Indonesia (BI) menyoroti nilai tukar rupiah yang mengalami tekanan seperti beberapa mata uang regional lainnya. Kondisi itu disebabkan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. 

"Nilai tukar pada 22 Juni 2022 terdepresiasi 1,93% (ptp) dibandingkan akhir Mei 2022. Depresiasi sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global, akibat pengetatan kebijakan moneter di berbagai negara," ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo, Kamis (23/6).

Baca juga: BI Masih Pertahankan Suku Bunga Acuan 3,50%

Pasokan valas domestik dikatakannya tetap terjaga. Lalu, persepsi terhadap prospek perekonomian Indonesia pun masih positif. Dengan perkembangan ini, nilai tukar rupiah hingga 22 Juni 2022, telah terdepresiasi sekitar 4,14% (ytd), dibandingkan level akhir 2021.

Meskipun terdepresiasi, hasil ini relatif lebih baik dibandingkan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya. Seperti, India sekitar 5,17%, Malaysia 5,44% dan Thailand 5,84%.

"Ke depan, BI terus mencermati perkembangan pasokan valas dan memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah. Sesuai dengan bekerjanya mekanisme pasar dan nilai fundamental untuk mendukung stabilitas makroekonomi," jelas Perry.

Baca juga: Menkeu: Ekonomi Pulih, Utang Bisa Ditekan

Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) diprakirakan tetap baik. Sehingga, mendukung ketahanan sektor eksternal. Adapun transaksi berjalan pada kuartal II 2022 juga diprediksi mengalami surplus.

"Perkembangan ini didukung berlanjutnya surplus neraca perdagangan. Seiring kinerja ekspor pada sebagian besar komoditas utama yang tetap kuat," tutupnya.(OL-11)
 

BERITA TERKAIT