21 June 2022, 15:50 WIB

Presiden: Kendalikan Komoditas Utama, Kekuatan Indonesia Semakin Jelas


Andhika Prasetyo | Ekonomi

ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
 ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Ilustrasi kelapa sawit

PRESIDEN Joko Widodo menyebut Indonesia telah menjadi negara yang begitu kuat dan memberi pengaruh besar terhadap dunia. Hal tersebut terlihat dari sikap beberapa negara yang ketar-ketir ketika pemerintah menutup keran ekspor batu bara dan CPO belum lama ini.

Jokowi mengatakan, ketika Indonesia menghentikan ekspor batu bara sementara demi memenuhi kebutuhan domestik, ada lima pemimpin negara yang menghubunginya. Mereka memohon kepada Indonesia untuk kembali membuka suplai komoditas energi tersebut.

“Waktu Januari kita setop ekspor batu bara, ada lima presiden, perdana menteri telepon saya. ‘Presiden Jokowi, mohon kita dikirim batu bara segera, secepatnya. Kalau tidak, mati kita. listrik mati, industri mati’,” ujar Jokowi dalam Rakernas II PDI Perjuangan di Jakarta, Selasa (21/6).

Hal serupa terjadi juga ketika Indonesia menutup ekspor CPO. Ada dua pemimpin negara yang juga menghubungi Jokowi, memohon untuk dikirimi komoditas tersebut.

“Saat itu, saya cek. Ada stok kira-kira tiga juta ton. Mereka minta 200 ribu ton. Oke. Dikirim saja 120 ribu ton,” tutur mantan wali kota Solo itu.

Dari dua contoh itu, kepala negara melihat posisi Indonesia di tingkat dunia sudah terlihat jelas. Indonesia memiliki peran yang begitu krusial.

“Kita jadi tahu kekuatan kita, posisi kita tuh ada dimana. Dari sini mulai kelihatan. Batu bara kita mempunyai kekuatan besar, CPO kita mempunyai kekuatan besar, nikel kita mempunyai kekuatan besar,” sambungnya.

Baca juga: Pengusaha Keberatan soal Tarif Bea Keluar dan Pungutan Ekspor CPO

Jokowi pun meminta jajaran menterinya dan seluruh pelaku usaha melihat itu sebagai peluang yang betul-betul harus dimanfaatkan secara maksimal. Sebagai negara penghasil batu bara, nikel, bauksit, CPO dan komoditas alam lain yang begitu melimpah, penciptaan nilai tambah harus dilakukan di dalam negeri.

Presiden tidak ingin hasil-hasil alam tersebut dijual ke luar negeri dalam bentuk mentah. Indsutri hilir harus dibangun sehingga memberikan banyak pemasukan bagi masyarakat dan juga negara.

“Penciptaan lapangan kerja ada di dalam negeri. PPH badan, PPH perorangan, biaya ekspor kita semua yang dapat. Besar sekali itu,” ucapnya.

”Arahnya ke depan harus ke sana. Kita sekarang sudah memiliki kemampuan itu. Kita sudah coba di nikel setop. Tahun ini kita akan setop lagi, bauksit setop. Semuanya dikerjakan di dalam negeri”.(OL-5)

BERITA TERKAIT