21 June 2022, 13:22 WIB

Kenali Rightsizing, Strategi Perusahaan untuk Mendorong Kemajuan


Dero Iqbal Mahendra | Ekonomi

ANTARA/M Agung Rajasa
 ANTARA/M Agung Rajasa
Pengemudi taksi memeriksa mesin mobil di Pool Taksi Blue Bird, Mampang, Jakarta. 

Hari ini dunia mengalami perubahan yang begitu cepat dan dinamis, dengan di dunia industri menuntut setiap perusahaan beradaptasi guna terus bertahan dan berkembang. Salah satu bentuk adaptasi adalah proses rightsizing.

Rightsizing sendiri bukan sesuatu konsep baru. Proses ini tidak hanya dilakukan oleh perusahaan yang telah mapan secara struktural,namun juga telah diadaptasi oleh perusahaan-perusahaan startup.

Secara harfiah rightsizing diartikan sebagai sebuah upaya memastikan sumber daya perusahaan dipergunakan secara tepat dan efektif. Pada bagian perusahaan atau lini bisnis yang difokuskan pertumbuhannya, dapat dilakukan penambahan sumber daya. Sedangkan pada bagian perusahaan atau lini bisnis yang kurang efektif, dapat dilakukan efisiensi.

Pada era serba dinamis seperti saat ini, rightsizing tidak hanya diartikan sebagai tindakan memotong jumlah karyawan, namun sebagai tindakan yang dilakukan oleh perusahaan agar karyawan berada pada posisi atau jabatan yang tepat, atau dikenal dengan istilah “right man on the right place”.

Beberapa perusahaan yang sudah menerapkan konsep rightsizing ini adalah Blue Bird, Shopee, dan HM Sampoerna.

Blue Bird menilai bahwa rightsizing tidak selalu berkaitan dengan perampingan atau pengurangan jumlah karyawan. “Kami memandang rightsizing tidak selalu berkaitan dengan perampingan. Namun lebih jauh dari itu, kami lebih mengacu pada bagaimana setiap orang dapat bekerja dengan optimal untuk memberikan layanan terbaik,” jelas Direktur Utama PT Blue Bird Tbk Sigit Djokosoetono dalam keterangan tertulisnya, Selasa (21/6).

Proses ini membuat perusahaan mendefinisikan lagi deskripsi pekerjaan dan mengatur ulang struktur karyawan sehingga potensi yang dimiliki oleh perusahaan dapat dimaksimalkan dengan baik. Dengan demikian, akan terwujud kinerja perusahaan yang lebih efektif dan efisien.

Perusahaan lain yang ditengarai melakukan rightsizing adalah Shopee. Perusahaan ini diyakini melakukan penyesuaian pada arah bisnis, khususnya terhadap karyawan yang bekerja di divisi ShopeeFood dan ShopeePay, bukan hanya di Indonesia namun juga di sejumlah wilayah operasional seperti Asia Tenggara, Eropa dan Amerika Latin.

"(Mengingat) ketidakpastian yang meningkat dalam ekonomi yang lebih luas, kami percaya bahwa adalah bijaksana untuk membuat penyesuaian yang sulit tetapi penting untuk meningkatkan efisiensi operasional kami dan memfokuskan sumber daya kami," ujar CEO Shopee Chris Feng dalam memo internal yang dilihat The Strait Times Singapura.

Sejalan dengan Shopee, langkah serupa juga dilakukan oleh PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) di mana perusahaan mengalihkan kegiatan usaha penyediaan jasa kepada PT Philip Morris Sampoerna International Service Center (PMSISC) yang juga anak usaha dari PT Philip Morris Indonesia. Langkah ini diambil perusahaan untuk meningkatkan efisiensi perusahaan dan lebih fokus pada kegiatan utamanya.

Seperti apapun bentuk rightsizing yang akan dilakukan oleh perusahaan, langkah tersebut penting dilakukan untuk menghadapi lingkungan bisnis yang semakin dinamis dengan mempersiapkan karyawan agar selalu bersiap diri dan meningkatkan kompetensi serta menjadikan perusahaan sebagai lingkungan kerja di mana karyawan dapat berkembang. (OL-12)

BERITA TERKAIT