21 June 2022, 13:14 WIB

Ekonomi Indonesia Diprediksi Membaik Tahun Ini


M Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
 ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Ilustrasi perekonomian

PEREKONOMIAN Indonesia diprediksi akan membaik tahun ini seiring peningkatan mobilitas masyarakat karena kasus covid-19 terjaga rendah. Naiknya mobilitas dinilai bakal menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi lantaran berkaitan erat dengan konsumsi masyarakat yang menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Kepala ekonom dan ahli strategi investasi PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan mengungkapkan kontribusi konsumsi rumah tangga pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berkisar 55%. Karenanya, pertumbuhan diyakini akan terjadi sejalan peningkatan mobilitas masyarakat.

"Kami memiliki pandangan yang konstruktif terhadap ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan membaik tahun ini seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat karena tingkat kasus covid-19 domestik yang rendah," ujar Katarina melalui keterangannya, Selasa (21/6).

Selain itu, Indonesia juga diuntungkan oleh harga komoditas yang meningkat, suportif bagi kinerja ekspor dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. Secara historis, harga komoditas yang kuat juga berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: Dongkrak Ekonomi Kreatif, Sandiaga Apresiasi Pelaku UMKM untuk Mendunia

Selain dari pertumbuhan ekonomi, Indonesia juga diuntungkan oleh tingkat inflasi domestik yang terjaga. Terlebih pemerintah memastikan harga BBM Pertalite dan listrik bersubsidi tidak naik tahun ini, serta menaikkan anggaran subsidi dan kompensasi energi.

"Kebijakan ini akan berdampak positif bagi inflasi domestik dan memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk tidak buru-buru menaikkan suku bunga, menjaga momentum pemulihan ekonomi," ungkap Katarina.

Dengan kata lain, di tengah tantangan inflasi dan pertumbuhan global, Indonesia menawarkan proposisi yang menarik bagi investor karena memberi lindung nilai (hedge) terhadap inflasi dan bantalan (buffer) terhadap melambatnya pertumbuhan ekonomi global.

Katarina juga menilai tambahan anggaran subsidi dan kompensasi dalam APBN 2022 sebagai langkah yang tepat. Apalagi dalam perubahan postur tersebut tingkat defisit anggaran menyusut dari 4,85% menjadi 4,5%.

"Perubahan postur APBN ini positif bagi pasar obligasi karena mengurangi risiko tekanan inflasi dan mengurangi asumsi penerbitan SBN tahun ini," pungkas dia.(OL-5)

BERITA TERKAIT