20 June 2022, 16:29 WIB

Presiden: Tingkatkan Produksi Pangan Sebesar-Besarnya


Andhika Prasetyo | Ekonomi

Antara
 Antara
Presiden Jokowi saat memberikan arahan di rapat kabinet paripurna.

PRESIDEN Joko Widodo menginstruksikan jajaran menteri agar fokus meningkatkan produksi pangan sebesar-besarnya dalam waktu singkat. 

Upaya tersebut harus dilakukan untuk mengantisipasi ancaman krisis pangan global, yang saat ini bahkan sudah melanda beberapa negara.

Menurut Kepala Negara, masih banyak lahan di sejumlah daerah yang tidak digunakan secara maksimal. Seperti, di perkebunan sawit. Perusahaan swasta atau petani swadaya seharusnya tidak hanya bergantung pada satu komoditas.

"Di antara sawit kan sebetulnya bisa ditanami. Kalau sawitnya masih pendek, bisa ditanami jagung. Kalau sudah tinggi, bisa ditanami porang," ujar Jokowi, sapaan akrabnya, di Istana Merdeka, Senin (20/6).

Baca juga: Presiden Murka Terhadap Bulog, Ungkap Stok Beras Busuk dan Rusak

Langkah intensifikasi produk pangan, lanjut dia, menjadi strategi yang sangat memungkinkan untuk diterapkan. Serta, memberi hasil optimal dalam jangka pendek.

Pasalnya, untuk menjalani proses tanam hingga panen jagung, petani hanya memerlukan waktu tiga bulan. Adapun peningkatan produksi serupa juga bisa dilakukan untuk berbagai komoditas. 

Jokowi menekankan bahwa banyak lahan terlantar yang bisa ditanami beras, kedelai, sorgum dan tanaman pangan pokok lainnya.

Baca juga: Guru Besar IPB: Krisis Pangan Global Bisa Jadi Tantangan dan Peluang Bagi Indonesia

"Bayangkan kalau kita bisa memproduksi pangan sebesar-besarnya dalam jangka pendek. Kita tidak hanya berdikari di bidang pangan, tapi kita memiliki potensi untuk eskpor," pungkasnya. 

"Kalau di dalam negeri sudah penuh stoknya, gampang sekali sekarang ini memasarkan ke luar negeri. Gampang sekali," imbuh Presiden.

Pihaknya mengaku banyak negara yang mengajukan permintaan untuk membeli beras dari Indonesia. Bahkan, ada negara yang meminta 100 ribu ton. Lalu, ada yang mengajukan penawaran untuk pengadaan hingga 2,5 juta ton.(OL-11)

BERITA TERKAIT