20 June 2022, 16:07 WIB

Pemerintah Dorong Percepatan Penanganan Penyakit Mulut dan Kuku


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

Antara
 Antara
Seorang dokter hewan menyuntikkan vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) di Cilembu, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Senin (20/6).

PEMERINTAH mendorong percepatan penanganan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak di Indonesia. Regulasi dan implementasi yang dapat mewadahi penanganan PMK dinilai perlu untuk segera dilakukan.

Salah satu upaya pemerintah ialah melakukan pengadaan dan distribusi vaksin dalam jumlah besar untuk segera melakukan vaksinasi pada hewan ternak.

"Dengan ini diharapkan herd immunity bisa segera tercapai," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartato dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Pembahasan Penanganan Penyakit Mulut dan Kuku pada Hewan Ternak yang dikutip dari siaran pers, Senin (20/6).

Vaksinasi PMK perdana telah dilakukan pada 14 Juni 2022 di Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur, selanjutnya akan didorong untuk vaksinasi dasar yaitu 2 kali vaksinasi dengan jarak 1 bulan, serta booster vaksin setiap 6 bulan. Untuk melaksanakan Program Vaksinasi tersebut, akan dilakukan oleh sekitar 1.872 tenaga medis dan 4.421 paramedis.

Ke depan, kata Airlangga, dibutuhkan sekitar 28 juta Dosis Prioritas Vaksinasi, dan saat ini yang sudah diimpor sebanyak 3 juta dosis, di mana 0,8 juta dosis dalam proses pengadaan pemerintah, sedangkan yang 2,2 juta dosis sedang proses refocussing untuk pembiayaan anggarannya.

Penyediaan vaksin dalam 3 bulan mendatang mampu lebih dari 16 juta dosis dari Importir Penyedia Vaksin. Sedangkan, vaksin dalam negeri dari PUSVETMA dan dari produsen vaksin dalam negeri lainnya.

"Pemerintah sedang menyelesaikan pembelian vaksin 3 juta dosis agar bisa segera didistribusikan dan dilakukan vaksinasi pada ternak prioritas. Sementara, untuk memenuhi kebutuhan 28 juta dosis sampai akhir 2022, salah satunya pemerintah akan bekerja sama dengan importir swasta dengan jumlah vaksin yang sesuai kebutuhan, dengan kontrol dan pengawasan pemerintah. Selain itu, oemerintah menyiapkan SDM terlatih untuk vaksinasi PMK serta penandaan (eartage) dan pendataan ternak," jelas Airlangga.

Ternak yang sudah divaksinasi wajib dipasang penanda di telinga hewan atau eartage (dengan pengembang sistem yakni PT PERURI), dan saat ini sudah tersedia 236 ribu eartage.

Airlangga menerangkan, PMK dapat menular melalui udara dan radius penyebarannya mencapai 10 kilometer. PMK merupakan Penyakit Hewan Menular (PHM) strategis, sehingga Bupati/Wali Kota dapat mengusulkan kepada Gubernur untuk ditetapkan status darurat PMK.

Hingga 18 Juni 2022, tercatat PMK telah menyebar ke 19 Provinsi dan 199 Kabupaten/Kota, dengan jumlah kasus sakit sebanyak 184.646 ekor, sembuh 56.822 ekor (30,77%); pemotongan bersyarat 1.394 ekor (0,75%); kematian 921 ekor (0,50%); dan yang sudah divaksinasi sebanyak 51 ekor. Sedangkan jumlah populasi seluruh ternak yang berisiko dan terancam (sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi) sebanyak 48.779.326 ekor. (E-3)

BERITA TERKAIT