20 June 2022, 12:54 WIB

Pengamat: Gunakan BBM dan LPG Subsidi Secara Bijak 


mediaindonesia.com | Ekonomi

MI/Andri Widiyanto
 MI/Andri Widiyanto
 Pekerja menata tabung gas LPG 3 kg di agen LPG kawasan Cibubur, Jakarta.

PENGAMAT migas Sofyano Zakaria mengimbau masyarakat agar bijak dalam menggunakan BBM dan LPG, termasuk BBM dan LPG  subsidi.

Dalam hal ini, lanjutnya, hanya masyarakat kurang mampu yang boleh menggunakan BBM dan LPG subsidi. Sedangkan kalangan mampu dan orang kaya, seyogyanya tidak memakai BBM dan LPG subsidi.

"Penggunaannya harus bijak dan dilakukan secara tepat sasaran. Untuk bahan bakar Pertalite digunakan hanya untuk masyarakat kurang mampu seperti sepeda motor dan kendaraan umum (plat kuning)," ujar Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) tersebut, kepada media Senin (20/6).

Begitu juga dengan LPG subsidi. Sebaiknya memang hanya dipakai untuk masyarakat miskin dan usaha mikro, seperti warung pinggir jalan. Sedangkan orang kaya serta restoran menengah dan besar misalnya, memang harus menghindari penggunaan LPG subsidi.   

Sofyano mengingatkan bahwa ketersediaan BBM dan LPG subsidi tetap berdasarkan kuota.

Baca juga: BKF: Subsidi LPG dan BBM Salah Sasaran, Didominasi Golongan Mampu

Untuk itu, menurut Sofyano, jika ada masyarakat mampu yang memakai Pertalite dan gas melon, misalnya, tentu akan berdampak pada distribusi terhadap masyarakat tidak mampu.  

“Jadi, meskipun Pemerintah dan Pertamina sudah menjamin ketersediaan BBM dan LPG subsidi di Tanah Air, diharapkan masyarakat tetap bijak dalam penggunaannya,” kata dia. 

Di sisi lain, Sofyano juga mengingatkan bahwa kondisi saat ini sebenarnya masih cukup berat, baik untuk Pemerintah dan Pertamina. Penyebabnya, tentu saja harga minyak dunia yang terus berada pada level yang sangat tinggi.

Untuk hari ini misalnya, minyak mentah jenis Brent dijual pada angka USD118,51 per barel. Sedangkan jenis WTI pada level USD115,31 per barel. 

Untuk itulah Sofyano juga mengusulkan, agar pemerintah mengkoreksi harga BBM dan LPG subsidi. Pasalnya, sejak konversi minyak tanah ke LPG 3 kilogram, hingga kini pemerintah belum melakukan penyesuaian harga. 

"LPG itu kalau saya amati, sejak pemerintah melakukan konversi minyak tanah ke LPG 3 kilogram, belum pernah melakukan penyesuaian harga," sambung dia. 

Begitu pula dengan Pertalite. Sofyano berharap, peeemerintah bisa melakukan koreksi terhadap harga secara bertahap.

"Naiknya jangan sekaligus. Bisa dilakukan bertahap misalnya Rp 100 per bulan. Lama-lama harganya akan ikut menyesuaikan," kata Sofyano lagi. 

Menurut Sofyano, kenaikan harga BBM secara bertahap bisa dilakukan bisa menghindari gejolak sosial di masyarakat. 

"Jadi jangan takut Pemerintah tidak populer. Kemarin waktu harga (Pertamax) naik, juga tidak menimbulkan gejolak yang berarti," tutup dia. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT