16 June 2022, 17:55 WIB

Pengamat Ekonomi Menilai Subsidi BBM tidak Tepat Sasaran


Haryanto | Ekonomi

MI/HARYANTO
 MI/HARYANTO
Pengamat ekonomi Universitas Diponegoro Semarang, Prof FX Sugiyanto

 

PEMBERIAN subsidi BBM saat ini dinilai tidak tepat sasaran, lantaran diberikan dalam bentuk barang atau komoditas. Dengan model pemberian subsidi tersebut semua orang, baik yang mampu maupun yang tidak mampu akan mudah untuk mengaksesnya.

Pengamat Ekonomi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof FX
Sugiyanto mengatakan, dengan penerapan subsidi BBM seperti saat ini,
maka subsidi dalam APBN akan terus membengkak. Apalagi, penyaluran subsidi sejauh ini tidak ada pengaturan yang jelas.

"Pemerintah harus tegas dan segera menerapkan pengaturan pembatasan BBM
subsidi agar lebih tepat sasaran. Kalau pendekatannya cuma sekedar ajakan atau imbauan tidak akan mempan, karena tetap saja masyarakat akan memilih barang yang lebih murah," kata FX Sugiyanto.

Jika pembatasan BBM subsidi tidak segera dilakukan, lanjutnya, beban APBN akan semakin berat. Padahal, sejauh ini anggaran untuk subsidi BBM telah mencapai Rp500 triliun lebih atau sekitar 18% dari total APBN.

"Subsidi BBM di APBN ini sudah sangat berat, bisa jadi nanti batasan
defisit 4% akan terlampaui," ujarnya.

FX Sugiyanto menambahkan, pemerintah bisa mengambil langkah dengan
menaikkan harga BBM untuk meringankan beban APBN. Meski akan berpengaruh pada kenaikan inflasi, tapi bisa menjaga APBN tidak jebol.

"Kalau mau mengamankan APBN supaya tidak jebol, ya harus menaikkan harga BBM," tegasnya.

Dewan setuju

Sekretaris Komisi B DPRD Jawa Tengah, Muhammad Ngainirrichadl mengaku,
setuju jika pemberian subsidi harus diberikan kepada orang yang berhak.
Namun demikian, sebelumnya harus dilakukan perbaikan data, serta pengawasan dan evaluasi, agar tidak terjadi penyimpangan dalam pemberian subsidi.

"Selama ini kan sering terjadi, dari data yang ada, orang yang berhak dapat subsidi malah tidak dapat. Tapi sebaliknya, yang tidak berhak malah dapat bantuan. Untuk itu, perlu ada pengawasan dan evaluasi," tukas Richard.

Dia setuju dengan pembatasan pembelian Pertalite bagi mobil mewah,
sebagai langkah untuk menekan subsidi yang tidak tepat sasaran. Namun, dia mengingatkan agar ada aturan teknis yang jelas di lapangan, agar tidak menimbulkan persoalan baru di SPBU.

"Yang paling tepat menurut saya pembatasan dengan menggunakan kapasitas
mesin kendaraan. Misalnya, kendaraaan dengan kapasitas mesin di atas 2.500 atau 3.000, sehingga petugas SPBU akan lebih mudah membedakan," ujarnya.

Senada, Ketua Ombudsman Jawa Tengah, Siti Farida mengatakan,
pengawasan dalam penerapan pemberian subsidi sangat penting, agar tidak
terjadi penyimpangan. Selama ini belum semua instansi mau menerima dan terbuka menerima pengawasan dari Ombudsman dan rekomendasinya.

"Pihak yang mendapatkan mandat nantinya untuk memberikan subsidi harus
terbuka dalam pengawasan, dan menerima masukan termasuk dari ombudsman," jelasnya.

Siti Farida menuturkan, baik subsidi dengan mekanisme melalui barang maupun orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jika subsidi diberikan kepada barang seperti saat ini, maka tidak terlalu prosedural, namun rawan terjadi spekulasi dan tidak tepat sasaran. Sementara jika subsidi diberikan ke orang, maka harus ada verifikasi, ada indikator-indikator.

Untuk itu, Siti Farida meminta masyarakat juga terlibat aktif dalam
melakukan pengawasan penyaluran BBM bersubsidi di lapangan. Hal ini
mengingat keterbatasan Ombudsman dalam melihat langsung implementasi sebuah kebijakan.

"Karena jangkauan kami cukup luas. Kami bisa menindaklanjuti dengan
koordinasi, dan kalau itu laporan maka dengan pemeriksaan," pungkasnya. (N-2)

BERITA TERKAIT