11 June 2022, 08:23 WIB

Wall Steet Rugi Mingguan Terbesar sejak Januari


mediaindonesia.com | Ekonomi

dok.Ant
 dok.Ant
Ilustrasi suasana di Wall Street.

WALL Street membukukan persentase penurunan mingguan terbesar sejak Januari dan turun tajam pada akhir perdagangan Jumat atau Sabtu pagi WIB (11/6), karena kenaikan harga-harga konsumen Amerika yang lebih curam dari perkiraan pada Mei memicu kekhawatiran kenaikan suku bunga yang lebih agresif oleh Federal Reserve.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 880,00 poin atau 2,73 persen, menjadi menetap di 31.392,79 poin. Indeks S&P 500 terpuruk 116,96 poin atau 2,91 persen, menjadi berakhir di 3.900,86 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup turun tajam 414,21 poin atau 3,52 persen, menjadi 11.340,02 poin.

Semua 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor konsumen non-primer dan teknologi masing-masing tergelincir 4,16 persen dan 3,89 persen, memimpin kerugian.

Indeks-indeks utama mencatat persentase penurunan mingguan terbesar sejak pekan yang berakhir 21 Januari, dengan Dow Jones jatuh 4,58 persen, S&P 500 anjlok 5,06 persen dan Nasdaq merosot 5,60 persen untuk minggu ini.

Saham-saham teknologi dan pertumbuhan, yang penilaiannya lebih bergantung pada arus kas masa depan, memimpin penurunan. Microsoft Corp, Amazon.com Inc dan Apple Inc mendorong kerugian di S&P 500.

Menyusul laporan inflasi, imbal hasil obligasi pemerintah dua tahun, yang sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga, melonjak menjadi 3,057 persen, tertinggi sejak Juni 2008. Imbak hasil acuan obligasi pemerintah AS 10-tahun mencapai 3,178 persen, tertinggi sejak 9 Mei.

Laporan Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat (10/6/2022) menunjukkan indeks harga konsumen (IHK) meningkat 1,0 persen bulan lalu setelah naik 0,3 persen pada bulan April. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan IHK bulanan naik 0,7 persen.

Sementara itu, IHK secara tahun-ke-tahun melonjak 8,6 persen, kenaikan terbesar sejak 1981 dan menyusul lonjakan 8,3 persen pada Mei.

Saham-saham telah bergejolak tahun ini, dan penjualan baru-baru ini sebagian besar terkait dengan kekhawatiran atas inflasi, kenaikan suku bunga dan kemungkinan resesi.

"Laporan hari ini akan menghilangkan kepura-puraan bahwa 'jeda' kenaikan suku bunga kemungkinan akan tepat pada akhir musim panas, karena The Fed jelas masih berada dalam situasi sulit untuk mengendalikan inflasi," kata Jason Pride, kepala investasi di Glenmede di Philadelphia.

Laporan inflasi diterbitkan menjelang kenaikan suku bunga 50 basis poin kedua yang diantisipasi dari Fed pada Rabu (15/6/2022). Setengah poin persentase lebih lanjut diperkirakan untuk Juli, dengan peluang kuat untuk pergerakan serupa pada September.

Satu kekhawatiran adalah bahwa dorongan agresif yang lebih tinggi pada suku bunga oleh Fed dapat mengirim ekonomi ke dalam resesi.

Di antara pecundang hari ini, Netflix Inc tergelincir 5,1 persen setelah Goldman menurunkan peringkat saham raksasa video streaming tersebut menjadi "jual" dari "netral" karena kemungkinan lingkungan makro yang lebih lemah.

Volume transaksi di bursa AS mencapai 12,62 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 11,88 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir. (Ant/OL-13)

Baca Juga: Dirawat di ICU 5,5 Tahun, Wulan Bersyukur Suaminya Ikut BPJamsostek

BERITA TERKAIT