10 June 2022, 17:18 WIB

GCRG: Perang Bikin 323 Juta Orang Terjerembab dalam Sangat Rawan Pangan


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

ANTARA/BASRI MARZUKI
 ANTARA/BASRI MARZUKI
 Petani mengumpulkan sayur bayam hasil panen di lahan bukaan baru Desa Porame, Sigi, Sulawesi Tengah, Kamis (9/6/2022). 

INDONESIA sebagai Champions Group of GCRG (Global Crisis Response Group) bersama lima kepala negara lainnya meramalkan konflik Rusia-Ukraina masih cukup panjang terjadi. Hal ini berdampak pada kondisi krisis global, terutama soal pangan.

Menurut data 2nd Brief GCRG yang dipaparkan Sekretaris Kementerian Koordinator (Sesmenko) Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, sekitar 323 juta orang masuk dalam kategori sangat rawan pangan.

Diketahui bahwa Rusia dan Ukraina merupakan produsen dan pengekspor komoditas pertanian terpenting di dunia seperti tanaman sereal, termasuk jelai dan gandum. Adanya konflik itu tentu berdampak pada pasokan pangan dunia.

"Pandemi dan konflik memperparah rawan pangan, khusus efek perang Rusia-Ukraina ini saat ini sudah tercatat naik lagi secara cepat soal rawan pangan. Dari 276 juta orang menjadi 323 juta orang yang sangat rawan pangan," ujarnya dalam Media Briefing, Jumat (10/6).

Susi, sapaan akrabnya, juga menuturkan, indeks harga pangan dunia Food and Agriculture Organization (FAO) menyusut ke level 157,4 poin pada Mei 2022 atau turun 0,9 poin dari April.

Baca juga: Kenaikan Harga Sejumlah Bahan Pangan Dinilai masih Wajar

Ia menambahkan, data GCRG juga menyebutkan satu dari dua orang Afrika sangat terdampak dengan krisis pangan, energi dan keuangan. Demikian juga yang dialami warga di wilayah Amerika Latin dan Karibia.

"Ini pengaruhnya sangat besar sekali dan mereka dihadapkan pada biaya krisis hidup. Ini juga terjadi hampir di 20 negara Amerika Latin," kata Susi.

Dampak konflik Rusia-Ukraina yang berkepanjangan juga dapat menyebabkan kemiskinan ekstrem dengan terganggu kehidupan dan pada mata pencahariannya 2,8 juta orang di Timur Tengah dan Afrika Utara.

"Di wilayah Asia Selatan pun ikut merasakan efek perang itu, diperkirakan 500 juta orang berdampak pada krisis keuangan yang parah. Jadi memang di hampir semua kawasan cukup dikhawatirkan terkait pangan," jelasnya.

Sesmenko Perekonomian juga memaparkan, setelah minggu pertama konflik Rusia-Ukraina, harga-harga energi seperti minyak mentah meroket tajam di atas US$130 dper barel, dua kali lipat dari asumsi yang dipatok pemerintah dalam APBN 2022 yang hanya US$63 per barel.

"Ketidakpastian harga komoditas tadi juga menanggulangi cost of debt atau biaya hutang yang sudah sangat membebani banyak negara," pungkasnya. (A-2)

BERITA TERKAIT