02 June 2022, 20:15 WIB

Catatan Kinerja BPR dan BPRS di Solo Raya Lebih Tinggi dari Nasional


Widjajadi | Ekonomi

MI/WIDJAJADI
 MI/WIDJAJADI
 Kepala Otoritas Jasa Keuangan Solo Eko Yunianto 

 

KINERJA Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Solo Raya, Jawa Tengah, pada triwulan I 2022 moncer. Pertumbuhan aset, dana pihak ketika, dan kredit lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.

Kondisi itu diungkapkan Kepala Otoritas Jasa Keuangan Solo Eko Yunianto saat menggelar evaluasi kinerja di Sunan Hotel, Solo, Kamis (2/6 ).

Menurut dia, sampai dengan Maret 2022, industri BPR/BPRS di Solo Raya mengalami pertumbuhan positif meskipun masih dalam kondisi pandemi Covid-19.

Adapun pertumbuhan aset, DPK, dan kredit/pembiayaan BPR/BPRS di Solo Raya  secara year on year masing-masing meningkat sebesar 11,25%, 12,02%, dan 8,86%.

Sementara data kinerja BPR sampai dengan Maret 2022, aset BPR di Solo Raya tumbuh sebesar 8,83% secara year on year (yoy) menjadi Rp9,32 triliun, kredit tumbuh 7,85% menjadi Rp6,95 triliun, dana pihak ketiga tumbuh 10,52% menjadi Rp7,24 triliun.

Data kinerja BPRS hingga Maret 2022, aset BPRS di Solo Raya tumbuh lebih tinggi sebesar 23,35% secara year on year (yoy) menjadi Rp968 miliar, pembiayaan tumbuh 20,24% menjadi Rp689 miliar, dan dana pihak ketiga tumbuh 32,17% menjadi Rp645 miliar

"Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan BPR/BPRS secara nasional," tegas Eko.

Dari sisi rencana bisnis, kata dia, capaian BPR/BPRS di Solo Raya juga cukup baik dengan rata-rata realisasi mencapai lebih dari 90% dari target rencana bisnis.

Eko juga menyampaikan, salah satu pilar kebijakan dalam Roadmap Pengembangan Perbankan Indonesia 2020-2025 adalah akselerasi transformasi digital perbankan yang dijabarkan melalui Cetak Biru Transformasi Digital Perbankan.

Cetak Biru Transformasi Digital Perbankan berisikan 5 (lima) elemen utama, yakni data, teknologi, manajemen risiko, kolaborasi, dan tatanan institusi yang perlu diperhatikan dalam proses transformasi digital perbankan.

"Implementasi Cetak Biru ini diharapkan dapat mendorong perbankan nasional lebih memiliki daya tahan, berdaya saing, dan kontributif," imbuh dia .

Eko berharap, dengan evaluasi ini, BPR/BPRS di Solo Raya dapat meningkatkan kinerja dan mengembangkan industri BPR/BPRS yang sehat serta mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan mendorong terwujudnya penerapan tata kelola yang baik. (N-2)

BERITA TERKAIT