31 May 2022, 14:18 WIB

Sektor Kehutanan dan Energi Kontributor Utama Pengurangan Emisi


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

Dok April
 Dok April
Ilustrasi

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong mengungkapkan, ada dua sektor kontributor utama atau tulang punggung (backbone) dalam pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) 29% di 2030, yaitu sektor kehutanan dan energi.

Berdasarkan dokumen Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional atau Nationally Determined Contribution (NDC), target pengurangan emisi GRK ditetapkan sebesar 29% tanpa syarat atau dengan usaha sendiri dan 41% bersyarat atau dari dukungan internasional di 2030.

"Sektor kehutanan berkontribusi mengurangi 497 juta ton CO2 untuk mencapai target 29%. Sedangkan energu itu sebesar 314 juta ton CO2. Sektor kehutanan itu hampir 60%," ungkap Alue dalam webinar Energy Summit 2022, Selasa (31/5).

Indonesia, lanjutnya, telah menyusun dokumen Long-term Strategy on Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS-LCCR 2050) yang menyatakan puncak emisi (peak emission) di tahun 2030 atau dengan kata lain tidak boleh menambah jumlah emisi lagi di tahun itu dan harus diturunkan.

"Estimasi kitasaat peak emission di 2030 sebesar 1,24 miliar ton CO2e. Ini hampir 1 gigaton CO2 dari sektor energi," terangnya.

Dalam LTS-LCRR 2050 juga memiliki visi jangka panjang pencapaian net zero emission pada 2060. Harapannya kontribusi sektor kehutanan sudah negatif dengan penurunan hampir 256 miliar ton CO2 serapan dan simpanan.

"Tapi energi masih positif atau tersisa 87 miliar ton CO2," sebutnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Mansyuri menyatakan sinergi antara perusahaan negara dengan K/L dan swasta menjadi kunci dalam mendukung dekarbonisasi 2060.

Ia menyinggung ada beberapa inisiatif yang dibutuhkan perusahaan BUMN dalam mengejar ambisi itu. Pertama, perseroan milik negara harus mengembangkan kapasitas pembangkit dan menggali sumber energi baru terbarukan seperti dari hidrogen, biomassa dan lainnya.

"Saya contohkan energi seperti hidrogen itu bisa berkemebang untuk transportasi dan mobilitas masyarakat," ungkapnya.

Selain itu, PLN juga diminta mempercepat mempensiunkan dini PLTU batu bara. Hal ini untuk mengurangi ketergantungan energi fosil.

Inisiatif berikutnya adalah mendorong pemakaian kendaraan listrik atau electric vehicle. Dengan mobilitas ini diharapkan mempercepat dekarbonisasi dalam bidang transportasi.

BUMN, kata Pahala, telah membentuk holding baterai kendaraan listrik, yakni Indonesia Battery Corporation (IBC) yang terdiri dari MIND ID, PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), dan PT Aneka Tambang Tbk

"Inisiarif lainnya ialah kita bisa bersama-sama membangun dan menata ulang ekosistem pasar karbon untuk mempercepat agenda dekarbonisasi," tutupnya. (OL-12)

BERITA TERKAIT