25 May 2022, 14:35 WIB

Jelang KTT-G20, Apjasi Ajak Ciptakan Keamanan di Lingkungan Kerja


Mediaindonesia.com | Ekonomi

DOK Pribadi.
 DOK Pribadi.
Kondisi yang semakin tidak menentu akhir-akhir ini seharusnya membuat perusahaan untuk lebih peduli pada risiko akibat ketidakpastian.


PANDEMI covid-19 telah berlangsung selama dua tahun. Beragam tantangan dan hambatan telah dilalui bangsa ini, salah satunya masalah keamanan, terutama di lingkungan kerja. Hingga saat ini kondisi keamanan masih aman dan terkendali. 

Ketua Umum Asosiasi Pengguna Jasa Sekuriti Indonesia (Apjasi) Leonard Abdul Aziz mengatakan kondisi keamanan yang aman jangan sampai membuat kita terlena. "Soalnya, potensi ancaman gangguan keamanan sangat dinamis serta beragam dan setiap waktu patut diwaspadai bersama," ujar Leo dalam alalbihalal dan talkshow sekuriti di Jakarta pada Rabu (25/5).  

Setelah melalui pandemi covid-19, dunia mulai memasuki lanskap tatanan geopolitik dunia baru. Setiap negara akan mempertahankan kedaulatannya dalam perspektif persaingan dominasi terkait distribusi energi, teknologi informasi, teknologi energi terbarukan, jaringan logistik, hingga skema keuangan baru dalam platform digital currency. "Tarik menarik kepentingan global tersebut akan berpengaruh pada stabilitas keamanan di setiap negara. Diawali dengan perang dagang AS-Tiongkok, krisis Rusia-Ukrainia, hingga isu laten di Timur Tengah dan Asia Timur serta Asia Selatan, akan berdampak luas terhadap stabilitas keamanan kawasan dan nasional," jelasnya.

Begitu juga dengan perusahaan dapat mencapai keunggulan kompetitif dengan melakukan manajemen rantai pasokan secara optimal dan baik. Perusahaan menghasilkan kinerja yang lebih baik dari pesaing karena manajemen rantai pasokan mampu meminimalisasi keseluruhan biaya untuk memenuhi dan melayani kebutuhan konsumen. "Untuk memastikan agar proses pasokan produk atau jasa berjalan dengan lancar, setiap perusahaan melakukan pengelolaan risiko atas potensi gangguan yang mungkin terjadi," jelasnya.  

Menurut Leo, kondisi yang semakin tidak menentu akhir-akhir ini seharusnya membuat perusahaan untuk lebih peduli pada risiko akibat ketidakpastian dan potensi gangguan yang sulit diperkirakan, seperti pandemi, perang, aksi teror, sabotase tindak kejahatan atau serangan siber. "Kami dari Apjasi mengajak seluruh pemangku kepentingan keamanan di Indonesia untuk sama-sama mewaspadai potensi ancaman tersebut. Beragam ancaman seperti cybercrime, terorisme, konflik sosial, sabotase rantai pasokan, separatisme, penyebaran ujaran kebencian yang berpotensi memecah belah bangsa hingga kejahatan konvensional perlu kita antisipasi bersama," jelasnya. 

Apjasi juga mengajak setiap perusahaan mulai menjadikan aspek keamanan menjadi bagian dari proses bisnis untuk memastikan keberlangsungan usaha melalui implementasi standar sistem keamanan secara konsisten, pengendalian risiko, peningkatan kompetensi personel pengamanan melalui beragam pendidikan dan pelatihan keamanan, penyiapan sarana prasarana yang handal dan menjalin kemitraan stategis dengan Polri, TNI, kementerian strategis, lembaga pendidikan, dan asosiasi. 

Leo menambahkan dalam waktu dekat Indonesia menjadi Tuan Rumah Konferensi Tingkat Tinggi G20 yang akan dihadiri oleh 20 kepala negara dan investor perusahaan dunia. Untuk itu, salah satu aspek penting yang menjadi pertimbangan investor dalam memutuskan investasi yakni aspek keamanan. "Kita sebagai pelaku usaha turut bertanggung jawab untuk memastikan keamanan bisnis dan investasi tersebut," tegasnya. (RO/OL-14)

BERITA TERKAIT