24 May 2022, 20:25 WIB

BNC Tunda Jadwal Right Issue ke Triwulan IV Tahun Ini


mediaindonesia.com | Ekonomi

Dok.BNC
 Dok.BNC
Direktur Utama Bank Neo Commerce Tjandra Gunawan 

BANK Neo Commerce (BNC) (BBYB) mengumumkan pengunduran jadwal pelaksanaan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu atau right issue yang sedianya akan dilaksanakan pada akhir triwulan dua tahun ini menjadi awal triwulan empat atau pada Oktober 2022.

Meski demikian, komitmen BNC akan penambahan modal inti tahun ini untuk memperkuat dan memperluas jangkauan bisnisnya juga untuk pemenuhan ketentuan OJK tentang modal inti masih sesuai rencana.
 
Direktur Utama BNC Tjandra Gunawan menjelaskan bahwa dengan pertimbangan kondisi perekonomian global belakangan ini dan imbasnya terhadap kondisi pasar saham di dalam negeri, BNC memutuskan untuk memundurkan jadwal pelaksanaan right issue yang rencana awal akan dilakukan triwulan II 2022.

Menurut dia, pertimbangan BNC memundurkan rencana right issue itu bukan tanpa alasan. Seperti diketahui banyak pihak, kondisi perekonomian global masih memiliki volatilitas dan memengaruhi kondisi ekonomi Indonesia saat ini.

"Ada beberapa risiko bagi perekonomian yang menjadi perhitungan pelaku bisnis di Indonesia, yang pertama perang Rusia dan Ukraina yang berkepanjangan. Selain itu, kebijakan The Fed (Bank Sentral AS) yang lebih hawkish di suku bunga, di mana kenaikan suku bunga ini juga dapat memicu kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia dan bayang-bayang inflasi di Amerika dan dunia ikut mempengaruhi kenaikan inflasi di Indonesia," ungkap Tjandra dalam keterangannya, Selasa (24/5).

Salah satu indikator masih belum stabilnya keadaan ekonomi di Indonesia, lanjut dia, ialah terjadinya penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam satu bulan terakhir sebesar 5,33%

Meski begitu, ia tetap optimistis keadaan perekonomian akan semakin membaik di semester dua tahun ini seiring dengan semakin terbukanya akses dan mobilitas masyarakat pascapandemi covid-19. Selain itu, BNC juga telah mengantisipasi dengan menerapkan strategi bisnis yang terukur untuk tetap menjadi yang terdepan di industri bank digital.
 
"Kami yakin bahwa kinerja tahun ini akan lebih cemerlang. Sama cemerlangnya atau bahkan berpotensi lebih baik jika dibandingkan dengan tahun lalu. Sustainable bisnis serta kekuatan inovasi dan kreativitas dalam menjawab kebutuhan pasar akan menjadi strategi kami dalam memanfaatkan momentum pertumbuhan positif yang kami miliki saat ini. Kami yakin right issue yang akan dijalankan di triwulan IV nanti akan terserap pasar dengan baik, dan membuat kami memiliki skala ekspansi usaha yang semakin bertumbuh dan semakin besar lagi," jelasnya.


Baca juga: Tahun Ini, BI Proyeksikan Ekonomi Global Tumbuh 3,4%


Lebih lanjut Tjandra mengatakan bahwa fokus BNC tahun ini masih tetap untuk mengeksekusi agenda kerja dengan terus mengembangkan dan melengkapi fitur dan layanan BNC ke nasabah. Bahkan, dalam waktu dekat fitur dan layanan perbankan BNC akan semakin lengkap dengan adanya QRIS dan Corporate Internet Banking yang telah mendapatkan persetujuan OJK.  "Khusus untuk QRIS, fitur ini akan sepenuhnya siap diimplementasikan pada Juli mendatang," ujar Tjandra.

Kinerja BNC semakin membaik sejalan strategi bisnis yang dilakukan perseroan, sejalan dengan peningkatan jumlah nasabah, dengan 17 juta pengguna teregistrasi dalam satu tahun beroperasi. Hal ini sejalan dengan peningkatan volume transaksi yang signifikan sebesar 88% menjadi 76 juta transaksi dibandingkan kuartal sebelumnya.

Dalam laporan keuangan kuartal I 2022, kinerja positif perseroan di awal 2022 ditunjukkan dengan kesuksesan BNC mencatatkan kenaikan Net Interest Income (NII) yang sangat signifikan atau naik sekitar 214,3% jika dibandingkan dengan periode yang sama 2021 dari Rp63 miliar menjadi Rp198 miliar di kuartal I 2022.

Kenaikan juga terlihat dari pendapatan di kuartal I 2022, yaitu sebesar Rp448 miliar atau naik sekitar 204,8% dari periode sebelumnya yang sebesar Rp147 miliar.

Kenaikan pendapatan di atas diikuti dengan penurunan beban operasional, sehingga pada kuartal I BNC mencatatkan kerugian bersih yang cenderung menurun. Masing-masing sebesar Rp163 miliar di Januari, turun menjadi Rp150 miliar di Februari, dan Rp100 miliar Maret 2022, sehingga total kerugian di kuartal I 2022 adalah sebesar Rp413 miliar.

BNC juga mencatat kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang cukup tinggi, yaitu sekitar 121,4% yoy dari Rp4,2 triliun di kuartal I 2021 menjadi Rp9,3 triliun di kuartal I 2022 atau mengalami pertumbuhan sebesar 14,7% dari Rp8,1 triliun di kuartal IV 2021 menjadi Rp9,3 triliun di kuartal I 2022, yang paling banyak ditempatkan dari deposito online melalui aplikasi neobank.

Pertumbuhan juga terlihat pada total aset bank yang naik sebesar 119,3% yoy dari Rp 5,7 triliun di kuartal I 2021 menjadi Rp12,5 triliun pada kuartal I 2022, sedangkan bila dilihat pertumbuhan secara kuartal sebesar 10,5% dari Rp11,3 triliun di kuartal IV 2021 menjadi Rp12,5 triliun di kuartal I 2022.

Di 2022 ini BNC secara terus menerus berusaha memenuhi kebutuhan nasabahnya, antara lain di bidang investasi dengan memperkenalkan product wealth management, seperti reksa dana, saham, asuransi, emas, dan produk lainnya. (RO/S-2)

 

BERITA TERKAIT