24 May 2022, 15:21 WIB

Soal Kerugian Pertamina, Bukan Karena Komisaris dan Manajemen


mediaindonesia.com | Ekonomi

Ist
 Ist
Gedung Pusat Pertamina di Jakarta.

DIREKTUR Pusat Studi Kebijakan Publik (PUSKEPI), Sofyano Zakaria menilai kerugian yang dialami oleh Pertamina lebih disebabkan faktor di luar manajemen.

Selain imbas krisis Rusia-Ukraina yang berdampak pada harga minyak dunia, juga karena tidak adanya restu menaikkan harga Pertalite. Jadi, bukan karena ketidakmampuan komisaris dan manejemen.  

“Jadi kerugian itu hanya dialami Pertamina di sektor penjualan. Kalau sektor hulu, justru untung. Kerugian itu bukan karena pihak manajemen. Apalagi dihubungkan ke komisaris. Gak masuk akal itu,” kata Sofyano dalam keterangan, Selasa (24/5). 

Menurut Sofyano, kerugian Pertamina lebih disebabkan oleh pemerintah yang tak memberikan restu menaikan harga Pertalite. Padahal nilai keekonomian Pertalite masih jauh diatas harga yang ditetapkan. 

Faktor lainnya, sambung Sofyano, terjadinya kenaikan harga minyak mentah dunia mencapai USD 130 per barel, dari semula USD 60 per barel, sebagai dampak krisis Rusia-Ukraina. Situasi ini ikut menekan cash flow keuangan Pertamina. 

Baca juga: Komisi Energi DPR Apresiasi Pertamina dalam Menjaga Stok BBM

Peryataan tersebut, menurut Sofyano, juga diperkuat dengan steatmen Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyatakan bahwa penetapan harga BBM Pertamina masih dibawah jauh dari harga keekonomian.

“Jadi bukan masalah manajemen. Itu salah kalau saya bilang,” ujarnya. 

Terlambatnya pemerintah membayar subsidi dan kompensasi bagi Pertamina, menurut Sofyano, juga menambah beban ancaman defisit arus kas operasional.

Sofyano memperkirakan Pertamina terpaksa harus menutupinya untuk menutupi dana opersional.

“Ini juga menjadi salah satu penyebab yang menyebabkan arus kas keuangan terganggu,” ujar Sofyano. 

Dia berpendapat bahwa dana kompensasi dan utang yang harus dibayar pemerintah kepada Pertamina mengandung arti yang sama.

Namun dana kompensasi atau dana talangan dikhususkan bagi subsidi BBM. Sementara utang dipahami sebagai utang-utang lain di luar dana kompensasi. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT