20 May 2022, 22:42 WIB

B20 Dorong Kolaborasi Publik dan Swasta Menuju Transisi Energi


Mediaindonesia.com | Ekonomi

Dok. Pribadi
 Dok. Pribadi
Seminar B20 mengenai transisi energi

FORUM dialog antar komunitas bisnis global B20 mendorong kolaborasi sektor publik dan swasta untuk menjalankan program transisi energi dalam mengurangi emisi dan menahan kenaikan rata-rata suhu bumi agar tidak melewati ambang batas 1,5 derajat Celcius.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Arsjad Rasjid mengatakan transisi energi merupakan tantangan besar karena membutuhkan banyak biaya, seperti Indonesia yang masih membutuhkan investasi skala besar sekitar 25 miliar dolar AS per tahun.

"Meski menantang, transisi energi juga membuka banyak peluang dan potensi. Kolaborasi sektor swasta publik adalah kunci untuk melancarkan ekonomi global agar potensial," ujarnya dalam seminar nasional bertajuk Energy, Sustainability, and Climate Task Force di Jakarta, Jumat (20/5).

Arsjad mengungkapkan, Indonesia telah berjanji untuk mendukung inisiatif perubahan iklim global, seperti menargetkan penggunaan energi baru terbarukan 23 persen pada 2025 dan mencapai target netralitas karbon pada 2060 atau lebih cepat.

Indonesia dikaruniai potensi yang sangat besar untuk menghasilkan energi terbarukan seperti energi surya, hidro, panas bumi, angin yang semuanya dapat dimanfaatkan di berbagai pelosok tanah air.

Baca juga : Petani Sawit Indonesia Mengapresiasi Presiden Jokowi Usai Cabut Larangan Ekspor

Ia pun menyarankan agar Indonesia memperkuat kolaborasi antar pemain global dari berbagai sektor dan peran, seperti investor, pengembang proyek hingga penyedia.

"Melalui B20 tahun ini, Indonesia siap memfasilitasi kolaborasi dan kemitraan untuk transisi energi hijaunya dan berharap dapat bekerja sama dengan pemain global yang siap mendorong gerakan ini," kata Arsjad.

Lebih lanjut ia menambahkan, aspek penting lainnya adalah penerapan insentif dari pemerintah yang diperlukan untuk mempromosikan adopsi energi bersih, seperti penelitian dan pengembangan, dukungan fiskal dan pajak, serta insentif tarif.

"Insentif ini diperlukan agar energi terbarukan dapat bersaing dengan energi fosil, sehingga menciptakan pasar yang menarik bagi investor," jelas Arsjad. (Ant/OL-7)

BERITA TERKAIT