27 April 2022, 23:33 WIB

Inkoppas Imbau Masyarakat Tidak Panik Harga Naik Jelang Lebaran


Abdillah M Marzuqj | Ekonomi

MI/ Abdillah M Marzuqi
 MI/ Abdillah M Marzuqi
Ketua Bidang Antar Hubungan Inkoppas Andrian Lame Muhar

BEBERAPA hari jelang Idul Fitri 1443 H, harga kebutuhan pokok kembali merangkak naik. Harga daging sapi dari Rp140 ribu menjadi Rp165 ribu, bahkan beberapa menembus Rp185 ribu. 

Sedangkan harga minyak goreng non-subsidi masih berada di kisaran Rp48 ribu-Rp50 ribu untuk 2 liter. 

Ketua Bidang Antar Hubungan Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas) Andrian Lame Muhar mengimbau masyarakat agar tidak panik dengan kenaikan harga yang sedang terjadi. Ia berharap pemerintah bisa mengatasi masalah itu dengan baik.

“Himbaun untuk masyarakat jangan panik. Insyallah pemerintah pasti bekerja dengan baik supaya harga ini bisa terjangkau, bukan stabil ya bahasanya. Bisa terjangkau. Yang terpenting, yang pertama barang-barang sembako menuju hari raya Idul Fitri ini jangan sampai langka dulu,” ujarnya.

Andrian juga menyatakan pihaknya tengah bekerja sama dengan Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) untuk mengupayakan penyaluran minyak goreng subsidi.

"Pemerintah sudah mengeluarkan minyak goreng subsidi yang dilakukan oleh produsen-produsen yang tergabung dalam asosiasi. Sekarang Inkoppas sedang bekerja sama dengan GIMNI untuk menyalurkan minyak goreng subsidi ke beberapa daerah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Bengkulu, Balikpapan, kemudian Dumai yang sekarang kami sedang berproses,” terang Andrian.

Menurut Andrian, masalah minyak goreng subsidi ada pada aspek pendistribusian yang harus patuh aturan-aturan yang berlaku. Pihak Inkoppas saat ini tengah mengurus prosedur penyaluran minyak goreng subsidi.

“Karena minyak goreng subsidi itu kan kita harus mendaftarkan yang D1 (distributor 1) dan D2 (distributor 2) Kemenperin. Kami sedang berproses. Mudah-mudahan saja sebelum Lebaran ini bisa kita kejar supaya bisa didistribusikan ke masyarakat," lanjutnya.

Andrian juga menyoroti larangan ekspor semua produk crude palm oil (CPO) dan turunannya. Meski sudah dilarang, harga minyak goreng di dalam negeri tak kunjung turun. Menurutnya, hal itu dikarenakan produsen minyak goreng terlanjur membeli bahan baku dengan harga tinggi saat awal produksi, sehingga mereka harus menghabiskan produksi tersebut.

“Waktu awal produsen itu membeli tandan ke petani itu sudah tinggi harganya sehingga sekarang harus menghabiskan produksi itu. Walaupun sekarang harga sawit tandan itu sudah menurun sehingga produsen sawit sudah mulai menurunkan harga untuk masalah produksinya seperti itu," tandasnya.

Andrian berharap produsen tidak bermain dengan membeli bahan baku murah, namun tetap menjual minyak goreng dengan harga tinggi.

"Mudah-mudahan saja produsen tidak bermain di situ. Beli tandannya murah tetapi jualnya tetap tinggi. Itu yang bahaya,” pungkasnya. (OL-8)

BERITA TERKAIT