26 April 2022, 08:11 WIB

Rajin Eksplorasi, Tingkat Keberhasilan PHE di Atas Rata-Rata


Mediaindonesia.com | Ekonomi

Dok.PHE
 Dok.PHE
Anjungan migas milik PHE

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) , sebagai Subholding Upstream Pertamina yang menaungi wilayah kerja hulu Pertamina di Indonesia dan juga luar negeri, rajin melakukan kegiatan eksplorasi guna menambah cadangan migas yang dimilikinya. 

Lalu, bagaimana success rate dari kegiatan eksplorasi ini, mengingat tidak selalu kegiatan eksplorasi membuahkan hasil manis.

"Sekitar 50%. Ini baik sekali karena rata-rata industri 30%," kata Direktur Eksplorasi Subholding Upstream Pertamina, Medy Kurniawan di Jakarta,Senin (25/4)

Ada  tiga strategi yang diterapkan PHE dalam kegiatan eksplorasinya. 

‘’Tiga strategi Utama tersebut antara lain berupa aset WK eksisting dimana kontribusi eksplorasi dibutuhkan dalam mempertahankan dan meningkatkan produksi migas eksisting. Selanjutnya strategi New Ventures dimana Subholding Upstream Pertamina mencari potensi eksplorasi yang baru. Terakhir, strategi partnership untuk sharing risk & cost serta technology & knowledge transfer melalui akselerasi proses kerjasama dan joint bidding domestic serta luar negeri,’’ ujar Medy.

Hingga  Maret, PHE ini telah melakukan pemboran sebanyak 2 sumur yaitu Sungai Gelam Timur-1 (SGET-1) dan Manpatu-1X yang berhasil menemukan sumber daya migas. Bahkan, Subholding Upstream Pertamina juga sedang melakukan pemboran di Camelia-001, Sungai Rotan-1, BDA-2X, Wiela-001 di wilayah Sumatera dan Phoenix-1 di wilayah Kalimantan dengan rencana sepanjang 2022 akan dilakukan pemboran sumur eksplorasi sebanyak 29 sumur.

Dalam melakukan kegiatan eksplorasi, Subholding Upstream menerapkan beberapa teknologi terkini. Diantaranya 2D Seismic Broadband dengan panjang lintasan lebih dari 30.000 km yang merupakan Survei Seismic Offshore terpanjang di Asia Pacific selama 10 tahun terakhir, 2D Vibroseis Acquisition di Subvulkanik Jawa, Pseudo 3D Seismic Reprocessing, dan survey eFTG-FTG atau Full Tensor Gradiometry. 

Teknologi eFTG (enhanced) ini baru pertama kali digunakan di Indonesia  dan dilakukan di wilayah Papua, tepatnya di Kepala Burung, dan survey FTG dilakukan di Akimeugah. 

‘’Selain strategi new venture dan partnership di wilayah terbuka, penerapan teknologi tepat guna  dibutuhkan dengan tujuan untuk  mengurangi subsurface uncertainty sehingga target dapat tercapai,’’ pungkas Medy.(RO/E-1)
 

BERITA TERKAIT