20 April 2022, 06:41 WIB

Rusia-Ukraina Naikkan Risiko Keuangan Global tapi belum Bikin Krisis


Mediaindonesia.com | Ekonomi

AFP/Olivier Douliery.
 AFP/Olivier Douliery.
Logo IMF.

INVASI Rusia ke Ukraina mengguncang pasar dan mendorong negara-negara untuk memberlakukan tindakan pembalasan yang dapat merugikan ekonomi global. Untungnya, belum ada krisis keuangan yang terwujud. IMF mengatakan itu pada Selasa (20/4).

Dalam Laporan Stabilitas Keuangan Global terbaru, pemberi pinjaman krisis yang berbasis di Washington mengatakan serangan Moskow terhadap tetangganya itu bukan peristiwa sistemis global dari sudut pandang keuangan, tetapi tetap menyusahkan ketika negara-negara pulih dari pandemi di tengah inflasi yang tinggi. "Meskipun dampak ekonomi diantisipasi, terutama di kawasan perang dan Eropa, tidak ada peristiwa sistemis global yang memengaruhi lembaga keuangan atau pasar telah terwujud sejauh ini," kata IMF.

Namun, laporan tersebut memperingatkan bahwa risiko stabilitas keuangan telah meningkat di beberapa bidang. Risiko tersebut dapat menguji ketahanan pasar keuangan global di tengah ketidakpastian besar, terutama jika stres berinteraksi dengan kerentanan yang sudah ada.

Harga minyak mentah dan komoditas lain melonjak secara global sejak invasi dimulai pada akhir Februari. Sanksi Barat terhadap Moskow meningkatkan risiko gagal bayar utang Rusia sehingga menimbulkan dampak susulan yang menyebar di luar sistem keuangannya.

IMF mengatakan perang telah mengkristalkan saluran penguatan spesifik dari guncangan yang beroperasi melalui pasar keuangan, seperti menyebabkan volatilitas harga komoditas. Konflik tersebut dapat mengejutkan harga komoditas dan mendorong inflasi lebih tinggi atau memicu serangan siber yang menghantam sistem keuangan global.

Baca juga: Pasar Asia Bereaksi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok

Ini dapat berdampak negatif pada pergeseran ke energi hijau di seluruh dunia. IMF mencatat bahwa harga komoditas yang lebih tinggi dan gangguan pasokan kemungkinan akan membuat transisi menuju energi terbarukan lebih mahal dan kompleks.

Di luar dampak perang, laporan itu menunjuk ke Tiongkok. Aksi jual baru-baru ini di saham dikombinasikan dengan krisis utang di sektor realestat dan peningkatan kasus covid-19 di negeri tersebut menimbulkan kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan dengan kemungkinan limpahan ke pasar negara berkembang. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT