12 April 2022, 13:30 WIB

Literasi Masyarakat Indonesia pada Pasar Modal Syariah Masih Rendah


Despian Nurhidayat | Ekonomi

Antara
 Antara
Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan sambutan saat IDX Debut Bank Syariah Indonesia.

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) menilai literasi dan inklusi masyarakat Indonesia terhadap pasar modal syariah masih rendah.

Hal itu tecermin dari survei nasional pasar modal syariah, yang dilakukan Direktorat Pasar Modal Syariah OJK bersama konsultan independen pada 2021. Diketahui, dari 5.106 responden survei, 1 dari 10 orang yang mengaku pernah menggunakan instrumen pasar modal.

"Ini masih jauh dibandingkan hasil survei dari industri perbankan dan asuransi. Di mana sebanyak 4 dari 5 responden pernah menggunakan layanan bank, lalu 1 dari 5 orang sudah pernah menggunakan layanan asuransi," jelas Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal  OJK Hoesen secara virtual, Selasa (12/4).

Dalam survei tersebut, juga diketahui bahwa tingkat literasi masyarakat Indonesia terhadap pasar modal syariah berada di level 15%. Sedangkan, tingkat inklusi masyarakat Indonesia terhadap pasar modal syariah berada di angka 4%.

Baca juga: Bank BUMN Syariah, Komitmen Pemerintah sejak Lama

Menurut Hoesen, data ini menunjukkan masih banyak ruang atau potensi dalam upaya meningkatkan literasi dan inklusi pasar modal syariah Indonesia. Salah satu tantangan dalam meningkatkan literasi pasar modal syariah adalah terbatasnya referensi publik.

"Pada 2019, OJK telah menyusun buku modul pasar modal syariah sebagai media pembelajaran terstruktur mengenai pasar modal syariah. Pada 2021, OJK bekerja sama dengan MES (Masyarakat Ekonomi Syariah), memproduksi 13 video edukasi modul pasar modal syariah," papar Hoesen.

Di tempat yang sama, Menteri BUMN sekaligus Ketua Umum PP MES, Erick Thohir, menuturkan bahwa investasi merupakan komponen penting dalam perekonomian Indonesia. Termasuk, untuk memulihan ekonomi nasional yang terdampak pandemi covid-19.

Baca juga: GoTo Resmi Menjadi Perusahaan Tercatat di BEI

Erick pun menyoroti peran ekonomi syariah yang terus tumbuh, bahkan di atas pertumbuhan ekonomi konvensional. Mulai dari aspek pertumbuhan aset, pembiayaan, hingga pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), yang tentu semakin membuktikan peranan penting ekonomi syariah dalam perekonomian Indonesia.

"Investasi syariah di Indonesia sendiri sudah didukung dan diformalkan oleh pemerintah Indonesia melalui pasar modal syariah. Pasar modal syariah telah bergerak sejak 1997, yang kala itu ditandai dengan penerbitan reksa dana syariah yang pertama," kata Erick.

Selama 25 tahun hingga saat ini, Erick menegaskan bahwa pasar modal syariah telah teruji oleh waktu, pengalaman dan sejarah. Hal itu membuktikan pengelolaan investasi yang aman dan sesuai prinsip syariah Islam.(OL-11)

BERITA TERKAIT