03 April 2022, 13:33 WIB

Ekonomi Digital Perlu Didukung Layanan Internet Berkualitas


Mediaindonesia.com | Ekonomi

Antara/Nyoman Hendra Wibowo.
 Antara/Nyoman Hendra Wibowo.
Warga melakukan pembayaran menggunakan fitur pemindai QRIS di Pasar Nyanggelan, Desa Panjer, Denpasar, Bali, Jumat (1/4/2022).

DATA Kementerian Perdagangan mengungkap Indonesia memiliki potensi ekonomi digital yang sangat besar hingga akan tumbuh delapan kali lipat dari Rp632 triliun menjadi Rp4.531 triliun pada 2030. Sektor e-commerce juga akan mendominasi ekonomi digital Indonesia senilai Rp1.900 triliun pada 2030 atau naik 34%.

Produk domestik bruto Indonesia juga akan mengalami pertumbuhan dari Rp15.400 triliun menjadi Rp24.000 triliun di 2030 sebagai dampak dari pertumbuhan ekonomi digital. "Ekonomi digital diuntungkan dengan perubahan struktural dan perilaku masyarakat akibat covid-19 yang mempercepat laju digitalisasi," kata Direktur Penelitian Bank Umum Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mohamad Miftah.

Hal itu tercermin dari e-commerce, delivery service, fintech, dan logistik yang mengalami lonjakan pertumbuhan selama pandemi. Karenanya, sangat penting untuk menjamin kualitas layanan dan keamanan data untuk mendukung ekonomi digital. 

Hal itu juga untuk menghadapi ancaman pencurian data di tengah tingginya arus ekonomi digital. Pelaku industri telekomunikasi juga dinilai mesti menjadi leading actor untuk mencegah pencurian data.

"Saya mendorong industri telekomunikasi menjadi leading actor untuk melindungi data klien," ujar pengamat kebijakan publik Universitas Indonesia (UI) Riant Nugroho. Menurut dia, industri telekomunikasi dapat memulai dengan mendeklarasikan perlindungan data untuk memastikan keamanan pelanggan. Hal ini agar data pengguna tidak bisa diakses pihak lain tanpa izin.

Langkah kedua, Riant mengusulkan agar perusahaan telekomunikasi mendorong pelaku industri digital mengeluarkan klausul serupa. "Mengeluarkan klausul yang sama untuk menjaga kerahasiaan dan tidak pernah dikeluarkan tanpa persetujuan pemilik data," kata Riant.

Menurut dia, saat ini belum ada regulasi yang mengatur hal itu. Namun, bukan berarti industri telekomunikasi tidak boleh melakukan.

Di sisi lain, Riant juga mendorong perusahaan telekomunikasi memperkuat kualitas layanan internet untuk mendukung potensi ekonomi digital yang besar di Tanah Air. Kualitas layanan merupakan hal yang tidak terhindarkan saat ini dan menjadi kebutuhan.

Baca juga: IEA Gelar Pertemuan Darurat tentang Pasar Minyak yang terlalu Panas

Undang-Undang Telekomunikasi, menurut Rian, perlu diubah untuk memperbaiki kebijakan publik di bidang telekomunikasi. "Ini sudah terjadi sejak lama, sejak UU Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi disahkan. Meski butuh waktu, yang pasti UU Telekomunikasi mesti diubah agar lebih kondusif," kata Riant. Ketua Umum Masyarakat Kebijakan Publik Indonesia (MAKPI) itu juga mengatakan pemerintah sebagai regulator seharusnya mengarahkan operator agar komitmen memberikan pelayanan yang bermutu. (RO/OL-14)

BERITA TERKAIT