24 March 2022, 14:35 WIB

Pedaran Uang Februari Stagnan, Tabungan Rupiah Tumbuh


Fetry Wuryasti | Ekonomi

ANTARA/Sanya Dinda
 ANTARA/Sanya Dinda
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Erwin Haryono.

BANK Indonesia mencatat uang beredar dalam arti luas (M2) pada Februari 2022 tercatat sebesar Rp7.672,4 triliun, tumbuh 12,5% (yoy), stagnan dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 12,8% (yoy).

Perlambatan M2 terutama disebabkan oleh melambatnya uang kuasi. Uang kuasi, dengan pangsa 44,0% dari M2, tercatat sebesar Rp3.374,5 triliun pada Februari 2022, atau tumbuh 5,9% (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan bulan sebelumnya (7,8%, yoy).

"Perlambatan uang kuasi terjadi pada seluruh komponen, baik simpanan berjangka, tabungan lainnya maupun giro valas," kata Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Erwin Haryono, Kamis (24/3).

Di sisi lain, komponen M1 dan surat berharga selain saham tumbuh meningkat sehingga menahan perlambatan M2 lebih dalam. M1 dengan pangsa 55,7% terhadap M2, tumbuh 18,3% (yoy) dari bulan sebelumnya (17,1%, yoy).

"Peningkatan terjadi pada uang kartal dan tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu," kata Erwin.

Peredaran uang kartal pada Februari 2022 tercatat sebesar Rp796,1 triliun, atau tumbuh 14,0% (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya (7,4%, yoy).

Baca juga: BI Catat Penyaluran Kredit Tumbuh Tipis pada Februari

Peningkatan kartal sejalan dengan meningkatnya kebutuhan kartal masyarakat pada momentum long weekend di akhir bulan Februari 2022.

Tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu dengan pangsa 48,6% terhadap M1, tercatat sebesar Rp2.078,6 triliun pada posisi laporan, atau tumbuh 13,7% (yoy), meningkat dari bulan Januari 2022 (12,5%, yoy).

Tingginya pertumbuhan M1 sedikit tertahan oleh giro rupiah yang tumbuh 28,8% (yoy) pada Februari 2022, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya (31,9%, yoy). Sejalan dengan perlambatan giro rupiah, dana float (saldo) uang elektronik juga tercatat melambat.

Dana float uang elektronik tercatat sebesar Rp10,5 triliun, tumbuh 36,9% (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya 39,0% (yoy). Pangsa dana float (saldo) uang elektronik terhadap M1 pada posisi laporan sebesar 0,2%.

Komponen surat berharga selain saham3 dengan pangsa 0,3% terhadap M2 tumbuh 17,5% (yoy), sehubungan dengan perkembangan kewajiban akseptasi bank terhadap sektor swasta domestik, sertifikat deposito dan obligasi dengan jatuh tempo di bawah 1 tahun.

Berdasarkan faktor yang memengaruhinya, perkembangan M2 pada Februari 2022 sejalan dengan berlanjutnya akselerasi penyaluran kredit di tengah perlambatan ekspansi keuangan Pemerintah Pusat dan aktiva luar negeri bersih.

Pada Februari 2022, Penyaluran kredit tumbuh 5,9% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 5,4% (yoy) sejalan dengan peningkatan penyaluran kredit produktif maupun konsumtif.

Di sisi lain, ekspansi keuangan pemerintah melambat seiring dengan perlambatan pertumbuhan tagihan bersih sistem moneter kepada Pemerintah Pusat, dari 48,1% (yoy) pada bulan Januari 2022 menjadi 42,7% (yoy) pada bulan laporan.

Hal tersebut disebabkan oleh perlambatan tagihan sistem moneter kepada Pempus berupa kepemilikan surat berharga negara.

Demikian pula aktiva luar negeri bersih pada Februari 2022 tumbuh sebesar 1,4% (yoy), melambat dibandingkan Januari 2022 (1,8%, yoy), sejalan dengan perkembangan cadangan devisa dan penguatan Rupiah terhadap valuta asing. (Try/OL-09)

BERITA TERKAIT