07 March 2022, 18:24 WIB

Konflik Rusia-Ukraina Kerek Harga Batu Bara Acuan Pada Maret Jadi US$203/ton 


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

Antara/M. Risyal Hidayat
 Antara/M. Risyal Hidayat
Kapal tongkang mengangkut batu bara

MENINGKATNYA eskalasi ketegangan geopolitik antara Rusia-Ukraina membuat harga komoditas batu bara global melambung tinggi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) pun menetapkan Harga Batu bara Acuan (HBA) sebesar US$203,69 per ton di Maret. 

Jumlah tersebut melonjak US$15,31 per ton dari Februari lalu yang sebesar US$188,38 per ton. HBA sendiri diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt's 5900 pada bulan sebelumnya, dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal/kg GAR, total moisture 8%, total sulphur 0,8%, dan ash 15%. 

"Konflik ketegangan geopolitik yang terjadi di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina menyebabkan ketidakpastian pada pasokan gas," kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi dalam rilis resmi, Senin (7/3). 

Rusia, sambung Agung, merupakan salah satu produsen gas terbesar di dunia sehingga adanya konflik tersebut menyebabkan terjadinya kendala pasokan gas di Eropa. 

Baca juga : Ekonom Mandiri: Investasi Dorong Pemulihan Ekonomi Indonesia

"Negara-negara Eropa bahkan mulai beralih ke batu bara sebagai sumber energi," jelasnya. 

Nantinya, harga ini akan digunakan secara langsung dalam jual beli komoditas batubara (spot) selama satu bulan pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Veseel). 

ESDM menambahkan, terdapat dua faktor turunan yang memengaruhi pergerakan HBA yaitu, supply dan demand. Pada faktor turunan supply dipengaruhi oleh cuaca, teknis tambang, kebijakan negara supplier, hingga teknis di supply chain seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal. 

Sementara untuk faktor turunan demand dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro. (OL-7)

BERITA TERKAIT