18 February 2022, 11:50 WIB

Dari Akad Mengalir Berkah    


Iis Zatnika | Ekonomi

MI/VICKY GUSTIAWAN
 MI/VICKY GUSTIAWAN
Warga melintas di depan rumah subsidi di Kawasan Maja, Lebak, Banten, Minggu (13/2/2022).

Rumah selebar enam meter itu tampak asri, ada pot berisi janda bolong dan aneka keladi yang kini tengah disukai para pehobi tanam hias. Usai memandori renovasi rumah tetangganya, Wahidin menyiram pot-pot itu sembari bercengkrama dengan Mei, sang istri yang sibuk menyuapi anaknya yang masih balita. 

Di muka rumah, di jalanan berlapis paving blok selebar empat meter, anak-anak berlarian dengan wajah berablut bedak, sebagian tipis namun ada pula yang tebal. Sungguh sore yang sangat khas di perumahan baru.   

Sambil menyiram dan mencabuti rumput kecil di pot tanamannya, Wahidin berkisah, lima belas tahun berkerja sebagai tukang bangunan hingga naik pangkat sebagai mandor, baru pada 2021, ia mempunyai rumah sendiri, naungan bagi istri dan dua cucunya sekaligus penghantar rezeki. Kendati terpaut 70 kilometer dari rumah kontrakannya di Ciledug, Tangerang, Banten, di rumahnya di Cluster Orion Perumahan Mutiara Maja itu, ia tak perlu jauh-jauh mengawasi pembangunan proyek rumah atau kantor yang lazimnya tersebar di Jabodetabek seperti yang dilakukan berbelas tahun sebelumnya. 

Tetangga-tetangganya di klaster rumah subisdi yang berlokasi di Curug Badag, Maja, Kabupaten Lebak, Banten, itu silih berganti menggunakan jasanya untuk melakukan perbaikan dan renovasi. "Tapi harus sesuai ketentuan, hanya boleh renovasi ringan dan sebelumnya harus meminta izin kepada pihak perumahan dan diberikan surat izin seperti ini. Kalau melanggar biasanya dapat semacam 'surat cinta'," ujar Wahidin yang menamakan usahanya Tukang Orion sambil memperlihatkan surat yang ditempel di jendela salah satu rumah yang tengah ia renovasi.

Sejak awal 2022 saja, sudah dua rumah ia tangani yang tak boleh ia ubah fasadnya, ditambah lantai serta berbagai batasan lainnya yang harus dipatuhi untuk memastikan penerima fasilitas subsidi tak salah sasaran. Salah satu syarat paling penting buat melakukan perbaikan adalah pembayaran cicilan BTN, bank penyalur KPR ke seluruh rumah subsidi di Klaster Orion, mesti lancar. Renovasi yang bisa dilakukan biasanya bersifat ringan untuk memastikan penghuni nyaman tinggal di sana.  

"KPR kami di sini rata-rata sama, sekitar Rp1.070.000 selama 15 tahun, selama ini Alhamdulillah lancar dibayar karena silih berganti order masuk," ujar Wahidin, Minggu (13/2)  tentang cicilan KPR rumah berukuran 27 meter dengan dua kamar yang berdiri di atas lahan 60 meter miliknya yang akadnya ia tandatangani pada Januari 2021 lalu. 

Rezeki dari Rumah Subsidi 
Kisah tentang hunian subsidi yang menjadi rumah pertama sekaligus medium yang mendatangkan rezeki juga diceritakan Michael,32, dan Sylvia,24, juga penghuni Cluster Orion,. Keduanya kini sama-sama menjalani karir sebagai agen properti. 

Dipertemukan oleh aplikasi pemesananan makanan daring, ketika Sylvia bekerja sebagai kasir sebuah kios martabak dan Michael menjadi pengemudi ojek, keduanya menikah setahun lalu dan ketika KPR atas nama Sylvia disetujui, mereka langsung pindah ke rumah yang didepannya dipasang plang besi bertuliskan KPR Bersubsidi itu. 

"Saya jadi ojek sekitar 4-5 tahun dan karena teman-teman saya banyak di properti, saya kemudian yakin bisa merubah nasib dengan menjadi agen. Pertama, bekerja di kantor pemasaran Perumahan Mutiara Maja juga. Tapi, saya tidak suka dengan sistem pemasaran kanvasing, bagi-bagi brosur di stasiun, makanya ambil kursus digital marketing yang investasinya cukup agar bisa berjualan lewat digital, sekarang lebih banyak pakai Instagram, Facebook dan YouTube dengan konten yang dibuat sendiri," kata Michael. 

Berjualan lewat digital dengan menyasar anak-anak muda juga pasangan yang baru menikah, Michael dan Sylvia yang telah berpindah kerja di agen properti di Karawaci, Tangerang, juga menjadi nasabah KPR BTN. "Nggak ada yang ribet selama persyaratan dipenuhi dan pastinya cicilannya terjangkau oleh mereka yang baru merintis karir dan belum pernah memiliki rumah sebelumnya," kata Michael yang seperti para tetangganya di Orion, menandatangani akad di BTN Kantor Cabang Ruko BSD, Sektor 7, Jalan Serpong Raya, Lengkong Wetan, Tangerang Selatan, Banten.

Jalan digital yang mereka tempuh, kata Sylvia, membuat mereka bertahan bahkan meraup pertumbuhan pendapatan di masa pandemi. "Karena kebutuhan rumah akan ada terus, tidak bisa ditunda dan kesadaran para milenial juga semakin baik," ujar Sylvia yang merekomendasikan para milenial pencari rumah subsidi berpatokan mencari perumahan berkonsep Transit Oriented Development (TOD). Pasalnya, lokasi rumah dengan fasilitas subsidi bagi mereka yang bergaji maksimal Rp8 juta itu lazimnya berada di pinggiran kota sehingga prospeknya sangat bergantung pada fasilitas transportasi umum.

"Misalnya di perumahan ini, para penghuni bisa pakai motor kurang dari lima menit sudah sampai ke Stasiun Maja dan dilanjutkan ke Stasiun Tanah Abang selama 90 menit. Cari tahu juga prospeknya apakah akan ada jalan tol, riset juga mengenai developernya. Contohnya Mutiara Maja ini sudah mendapat FIABCI - REI Excellence Award 2020," lanjut Sylvia. 

Wahidin dan pasangan Michael serta Sylvia menjadi bagian dari nasabah yang menyelesaikan akad KPR BTN susidi yang pada 2021 mencapai Rp 17,15triliun atau sebanyak 117.699 unit. Tahun ini, BTN menjadi bank yang pertama menandatangani perjanjian kerjasama dengan Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) untuk penyaluran KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dengan target 200.000 unit. 

Berawal dari akad di Serpong, terhubung dengan kereta yang melaju dari Tanah Abang, sore itu gairah untuk terus bertumbuh di masa pandemi terus terpancar di Maja, saat Wahidin menghitung bahan baku proyeknya serta Michael dan Sylvia menjawab pertanyaan tentang persyaratan KPR BTN bersubsidi di Instagram. (X-16)
 

BERITA TERKAIT