16 February 2022, 15:55 WIB

Volume Perdagangan Indonesia dengan Negara yang Jalin LCS Capai 42%


Fetry Wuryasti | Ekonomi

Antara/Nova Wahyudi.
 Antara/Nova Wahyudi.
Karyawan menghitung uang rupiah dan dolar AS di Bank Mandiri Syariah, Jakarta.

BANK Indonesia (BI) telah memulai penerapan kerjasama transaksi bilateral mata uang lokal melalui local currency settlement (LCS) dengan sejumlah negara seperti Tiongkok, Malaysia, Thailand, dan Jepang. Bank Mandiri sebagai salah satu appointed cross currency dealer (ACCD) melihat inisiatif yang sudah diluncurkan dengan LCS sejak 2018 membuat level keyakinan dari penanganan atau pengelolaan nilai tukar rupiah menjadi semakin baik.

Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan secara total dari volume perdagangan Indonesia di antara negara-negara yang menjalin LCS sudah mengambil porsi sekitar 42%. "Artinya bila melihat penerapan LCS salah satunya untuk pengelolaan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Ini berpotensi untuk terus kita tingkatkan," kata Darmawan dalam diskusi Side Event G20 bertajuk Showcasing The Implementation of Local Currency Settlement Framework Between Indonesia and Partner Countries, Rabu (16/2).

Kemudian, implementasi LCS membuat kemampuan dari perbankan untuk mnedukung pelaku usaha, untuk lebih melihat peluang pasar tidak hanya secara domestik, tetapi juga internasional dengan negara-negara yang sudah memiliki LCS arrangement, tanpa ada kekhawatiran terhadap risiko nilai tukar. "Perdagangan luar negeri memakai pengaturan LCS ini, membuat seperti transaksi dengan tarif lokal. Bila kita dukung terus, komunikasi antar-ACCD juga bisa mendukung sektor-sektor yang bisa dikembangkan dalam rangka mendukung bisnis dari pengusaha Indonesia yang berhubungan dengan mitra di negara yang sudah bekerja sama LCS settlement," kata Darmawan.

Melalui penggunaan LCS, pelaku usaha berpeluang meningkatkan volume perdagangannya, sehingga meningkatkan pasokan, yang akan memberi dampak. Di Bank Mandiri, pertumbuhan transaksi perdagangan menggunakan LCS sudah hampir 30% dan volume dari nilai tukar di antara anggota ACCD, sudah tumbuh sekitar 171% di 2021 dibandingkan 2020.

"Pertumbuhan volume transaksi konversi valas menggunakan LCS per 11 Februari 2022 (ytd) tercatat US$122,63 juta dengan frekuensi 895 transaksi. Di 2022, saya meyakini akan makin banyak transaksi perdagangan yang menggunakan payung LCS," kata Darmawan. Bank Mandiri memilih sektor-sektor yang berpotensi memiliki pengaturan perdagangan dengan negara-negara yang sudah bergabung di LCS.

Presiden Direktur Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan inisiatif pengaturan penyelesaian transaksi menggunakan mata uang lokal (LCS) merupakan suatu terobosan atau inovasi yang mengarah kepada efektivitas dan efisiensi. Letak efisiensi dan efektivitas tersebut, Jahja jelaskan, bila menggunakan gaya lama, eksportir dan importir harus mengubah konversi nilai tukar daftar harga produk dalam mata uang dolar AS. Ketika harga jual dan beli didaftarkan dalam dolar AS, pada saat penyelesaian akan terkena dua tahap konversi dari rupiah ke dolar AS, kemudian diubah lagi di negara tujuan.

"Ini mengakibatkan ada dua kali beban pricing atau harga dari perubahan konversi yang harus ditanggung kedua belah pihak. Kalau dengan pengaturan LCS, rupiah akan langsung dikonversi ke yen Jepang, renminbi Tiongkok, bath Thailand, dan ringgit Malaysia. Ini hanya akan satu kali konversi," kata Jahja.

Kedua, terkait zona waktu. Tanpa LCS, penyelesaian transaksi harus mengikuti zona waktu Amerika, baru kemudian dana ditransfer ke negara tujuan, dan sering kali mengakibatkan keterlambatan. Dengan konversi transaksi mata uang lokal secara langsung, perbankan juga bisa melakukan promosi, seperti memberikan cashback untuk fee telex dan spesial kurs. "Ini tepat untuk mendukung perdagangan blobal dan investasi yang bisa lebih efisien efektif transaksinya."

Perdagangan Indonesia dengan empat negara yang telah menjalin pengaturan transaksi LCS diketahui merepresentasikan 41% dari total. Bertahap LCS juga bisa diterapkan bersama mitra dagang seperti Korea Selatan, Taiwan, dan India. "Ke depan bila diperluas, akan bisa mencapai 70%-80%. Inovasi ini salah satu bukti forward looking produk yang bisa dinikmati nasabah," kata Jahja.

Baca juga: Diversifikasi Mata Uang Perkuat Stabilitas Perekonomian

Untuk ke depan diharapkan penerapan LCS difasilitasi dengan hedging. Tujuannya agar bagi nasabah bila pembayaran dilakukan enam bulan kemudian, tidak akan terjadi perubahan nilai konversi.

Ekonom Indonesia Chatib Basri mengatakan penerapan penyelesaian transaksi menggunakan mata uang lokal (LCS) merupakan langkah baik untuk mulai diterapkan, meskipun harus realistis bahwa porsinya masih kecil. "Bagaimanapun peran US dolar masih dominan. Namun LCS ini langkah bagus untuk membuat diversifikasi, supaya volatilitas dari nilai tukar mata uang bisa diatur," kata Chatib. (OL-14)

BERITA TERKAIT